Gelar oh gelar..

Tiada Tuhan selain Gelar..

Padahal orang-orang besar yang merubah peradaban dunia justru tiada bergelar

Tapi mengapa manusia begitu bangga dengan yang namanya gelar.

Gelar ibarat sebuah nyawa dalam hidup

Tanpa gelar sepertinya seseorang tak kan pernah bisa hidup, tapi mengapa justru mereka yang mengubah kehidupan dunia lebih banyak yang tidak bergelar?

Gelar oh gelar..

Semuanya diukur dengan gelar. Bahkan dalam semua aspek kehidupan, prestasi, kemampuan, isi kepala tidak lagi menjadi penting. Jauh lebih penting memiliki gelar beserta rentetan gelar yang dimilikinya.

Gelar oh gelar..

Tiada Tuhan Selain Gelar.

Bahkan untuk mencari pasangan hidupun di negeri ini gelar menjadi salah satu persyaratannya. Isi kepala dan nilai kemulian manusia hanya diukur dengan sebatas gelar. Anda tidak boleh masuk kesini jika tidak bergelar anu, atau anda boleh mengikuti ini asalkan minimal bergelar anu. Anda tidak boleh menjadi itu jika tidak memiliki gelar setinggi ini. Begitulah isi sebuah aturan main di negeri 1001 gelar

Sehebat apapun prestasi anda dan sebesar apapun jasa anda, anda tak akan pernah naik peringkat jika anda tidak mau menambah jumlah gelar yang anda miliki saat ini. Begitulah pembatasan-pembatasan yang telah dibuat di negeri 1001 gelar.

Gelar.. Oh gelar..

Gelar-gelar yang telah membuat sombong orang yang memilikinya. Yang telah merendahkan orang yang tidak memilikinya. Dan yang telah membuat para orang tua begitu khawatir akan anak-anaknya hingga berduyun-duyunlah orang berebut gelar.

Karena segalanya diukur berdasarkan gelar, maka menyingkirlah segera wahai pemikir-pemikir hebat

Dan orang-orang berprestasi dinegeri itu jika anda tak bergelar. Bahkan yang tak kalah luar biasanya adalah

Untuk menjalankan perintah Tuhan Yang Maha Agung sekalipun mereka masih belum rela rasanya jika tidak menambahkan gelar setelah melaksanakannya.

Sungguh luar biasa.

Tiada Tuhan selain Gelar

Itulah semboyan yang paling terkenal di negeri 1001 gelar

Untunglah dunia olah raga seperti Asian Games, Olimpiade dsb sejak dahulu tidak pernah ikut-ikutan untuk mendewa-dewakan gelar. Anda atau siapapun tanpa terkecuali boleh ikut ambil bagian dan unjuk gigi di dunia ini

Tidak perduli apapun gelar anda. Hanya prestasilah taruhannya. Siapa yang tidak unggul dia akan segera diminta mundur. Tidak seperti di negeri 1001 gelar.

Dunia olah raga adalah dunia prestasi yang dari waktu-kewaktu tidak pernah ada kemunduran. Catatannya selalu bergerak maju. Anda dinilai berdasarkan kemampuan. Bukan berdasarkan berapa tingginya gelar anda atau berapa banyaknya gelar yang mengiringi nama anda.

Begitulah kehidupan di negeri 1001 gelar. Yang semakin hari semakin terpuruk karena negara harus menaggung beban yang demikian berat terhadap orang-orang yang tidak berprestasi tapi memiliki gelar yang berbaris mulai dari depan hingga dibelakang namanya.

Bahkan yang jauh lebih memprihatinkan lagi

Ternyata bahwa sebagian besar masyarakat di negeri 1001 gelar sudah mulai lupa apa arti “Kemampuan Unggul” dan Apa arti “Prestasi”.

Dan dari hasil temuan terakhir diketahui bahwa didalam kamus besar bahasa, di negeri 1001 gelar sudah tidak memuat lagi kata-kata seperti “Prestasi”, “Kemampuan”, “Kinerja”, “Keahlian” dan sejenisnya. Melainkan telah diganti dengan rangkaian daftar panjang gelar-gelar lama. Yang sebagian telah di konversikan menjadi gelar-gelar baru yang semakin rumit dan membingungkan.

Begitulah Kisah di Negeri 1001 gelar

Sebuah Negeri yang pada akhirnya selalu diliputi oleh 1001 masalah dan 1001 bencana yang terus datang silih berganti. Sungguh menakutkan akhir sebuah cerita dari sebuah negeri yang menganut paham Tiada Tuhan selain Gelar. Ah, seandainya saja kita mau belajar dari negeri 1001 gelar ini, mungkin kita bisa lebih cepat sadar dan tak menjadi negera yang sebobrok ini.

Judul Asli : Negeri 1001 Gelar

Sumber : Fan Page Ayah Edy

Foto Ilustrasi : Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *