Wedding Planner yang ngerjain Weddingnya Sendiri (part 2)

Haai Teman Gadinyana,

            Di obrolan sebelumnya,(link) gue udah cerita tentang gimana asal muasalnya gue jadi Wedding Planner di The Ganyana. Sekarang gue mau cerita gimana riwueh to the max-nya otak gue ngerjain nikahan sendiri.

            Tarikk nafaasssss, buang pelan-pelan… yak! Mari kita mulai.

Jadi sebenarnya, gue diajak nikah itu sudah dari tahun 2019 sama KB. Cuma I have sooo many task to do, before I getting married. Salah satunya adalah tanggung jawab dari bapak gue yang menitipkan banyak hal sebelum meninggal. Jadi gue gak bisa gitu aja langsung jawab YOK, NIKAH. Ga bisaaa..

            Ditambah lagi gue punya personal issues yang rada rebek di ranah psikologis jadi KB emang sengaja gue dikasih waktu buat berpikir matang-matang dulu sebelum akhirnya nanti gak bisa mundur dari keputusan ini, hahaha. Intinya gue pribadi memang tergolong hati-hati dalam memilih dan merencanakan ‘perjalanan’ bersama teman hidup. Nanti akan gue ceritakan di tulisan tersendiri, bagaimana pada akhirnya “serigala” ini bisa jinak hahaha.

            Well, kita lanjut ke obrolan tentang persiapan nikah gue ya. Sebagai wedding planner apalagi untuk nikahan sendiri, gue udah otomatis mesti lebih jeli, maklum karena kami tidak ada yang menyubsidi, jadi orang tua dan keluarga mah ikut baee-lah gimana mau kami.

            Naah, dimulai dari bahas konsep acara ya.

            Sebenarnya gue itu mau banget kalo pake adat budaya, apalagi Jawa, yang ada midodoreni, panggih dll-nya. Cuma karena kedua orang tua gue udah tiada, jadi gue lebih memilih pake yang Internasional aja. Meminimalisir kesedihan sih tujuan utamanya. Karena kalo pake adat terus di gantiin ‘kan rasanya beda ya. Apalagi buat gue pribadi, singgasana emak bapak gue gak ada yang berhak menjadi pengganti, (cielaahh).

            Hampir semua hal dalam pernikahan kami, gue kerjain sendiri. Partner hidup alias calon suami (saat itu) mempercayakan semuanya ke gue tapi hanya untuk memberikan opsi, bukan untuk memutuskan. Kami sepakat, sebelum memutuskan apapun itu perlu ada diskusi. Jadi segala hal harus lewat diskusi dua kepala, ga bisa sendiri. ‘Karena yang nikah berdua, begitu kira-kira.

Termasuk berapa orang yang kita undang, siapa aja orang-orangnya, kita nyaman apa enggak, ya kita obrolin sampe mentok. Termasuk juga bagian design undangannya. Sebenernya ini relate sama perihal Pre-Wedding Session, cuma buat mempersingkat alur obrolan biar gak panjaaangg dan lebuarr banget di satu tulisan, gue bikin sendiri di tulisan terpisah aja ya nanti.

            Untuk undangan ini gue bikin dua versi. Satu undangan digital, satunya undangan fisik dalam jumlah terbatas. Kenapa dua? Kerena pernikahan itu ‘kan lintas generasi ya. Ada yang masih berpemahaman bahwa kalo ga ada undangan fisik, berarti meniadakan silaturahmi sekaligus terasa seperti tidak diundang (biasanya ini golongan usia orang tua) makanya tetap dibuat dan terbatas. Waktu itu gue buat cuma sekitar 20pcs aja. Sementara undangan digital gue buat untuk yang seumuran gue dan KB, mengingat mobilitas dan hemat biaya juga buat transport kesana kemari, duh males ribet deehh. Haha.

            Design undangan pun konsep besarnya gue kerjain sendiri. Kebetulan gue punya tim website developer dan tim artwork yang sangat memahami bagaimana riwehnya gue untuk mencapai apa yang gue sudah tetapkan. Termasuk juga perihal souvenir, untuk souvenir gue gak bikin sendiri sih kalo ini, tetep mencari dan memilah vendor, cuma detilnya emang tetep gue yang bagian repotnya, hahaha.

Sekarang kita ngobrolin warna dan baju pengantin ya..

Di part selanjutnya aja gimana? Biar gak gumoh gituu, kita istirahat dulu, haha.

.

Suksma, The Ganyana.

(1) Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *