Wedding Planner yang ngerjain Weddingnya Sendiri (part 3)

Kita lanjut yaa..

Untuk warna di pernikahan, yang gue pilih hanyalah warna basic, yakni hitam dan putih (broken white) aja. Putih untuk dekorasi bunga dan gaun yang gue pakai, hitam untuk tuxedo yang dipakai KB. Adapun tambahan warna merah, itu hanya khusus bunga yang ada di kepala dan tangan gue dan hijau mint untuk seragam keluarga dan orang tua KB.

Kenapa harus warna-warna itu?

            Jawabannya karena warna basic itu classic. Yaa emang terkesan kayak ‘standart’ aja sih, tapi sampe kapan pun yaa menurut gue akan bisa ‘diterima’ jaman alias timeless. Untuk warna merah dan hijau, ini sebenarnya inisiatif gue pribadi aja. Almarhum nyokap gue suka banget sama warna merah, dan bokap gue suka banget sama warna hijau jadi gue mengikutsertakan perihal ini karena sekalipun wujud mereka ga ada, tapi hal-hal kesukaan mereka masih bisa ikut andil dalam acara nikahan ini (drama yee, biasaaalaah hihi).

            Lalu kita ke baju pengantin.

Untuk KB gue memang memilihkan dia tuxedo hitam, simple karena emang dia suka banget sama warna hitam, jadi apapun asal warnanya hitam, ya doi gak masalah. Nah perkara bahan dan modelnya kayak apa, dia udah pasrah aja sama pilihan gue, haha.

Sepatu, gue juga sengaja ngebeliin KB sepatu yang bisa dipakai buat di kerjaan doi juga nantinya, yakni safety shoes, wakakaka. Kebetulan di mata gue dia jaauuhh terlihat keren dengan apa adanya dirinya dia. Doi pernah pake pantofel, dan menurut gue aneh, jadi mending yang pilih yang ada jiwa dan jati dirinya dia juga.

Kemudian, gaun pengantin. Gue memilih buat jahit sendiri aja alias bukan sewa. Karena selain harga sewa gaun yang gue suka itu selalu muaahal alias out of my budget, kebetulan sepupunya KB adalah seorang fashion designer, jadi lumayan terbantu untuk mengatasi keriwehan gue meminta klasifikasi bahan kain dan aksesoris apa aja yang ada di gaun tersebut supaya gak timplang dan tabrakan dengan yang nantinya jadi aksesoris tambahan di acara.

Secara pribadi gue cukup concern dengan kualitas dan jenis bahan dari pakaian yang gue pakai. Selain karakteristik bahan yang harus nyaman dipakai, gue juga menghindari pernak Pernik yang ruame dengan mute-mute atau manik-manik. Gue prefer yang sederhana apa adanya dengan sedikit tunggingan di muka gaun (kan kalo sewa gak bisa request macem-macem yaa, shay.)   

Nah, Sekarang kita ngobrolin tempat.

            Gue sama KB termasuk rombongan pecinta alam, (ini beneran yang cintanya pake kesadaran yaa, bukan yang pake kamera hp doang tapi hobinya nyampah di gunung, eh malah gosip, hahaha). Karena latar belakang perkenalan dan jadi akrab pun selalu saat mengikutsertakan alam bebas, jadi preferensi lokasi acara pernikahan kami sudah pasti bukan di gedung tertutup. Naah, dari sekian panjang nan berlikunya dialetika dalam menentukan pilihan, akhirnya kami memutuskan daerah Puncak sebagai tempat lokasi acara pernikahan yang paling ‘mendingan’ dari pilihan-pilihan yang tersedia.

            Sebenarnya kalau acuannya hanya cost, pasti kami memilih di Jakarta, tapi pertimbangannya adalah walau tampak tidak lebih ribet dari Puncak, kami kompak merasa bahwa opsi yang ada di Jakarta seperti ‘bukan jati diri kami’ sampai pada akhirnya secara Gadinyana kami menemukan Villa yang gaya bangunannya yang cukup menarik bagi kami, walau kami yakin pasti resikonya nanti cukup besar.

            Resiko, karena sudah pasti tamu undangan yang hadir akan jauh lebih sedikit dibandingkan bila yang di area Jakarta saja. Tapi tahukah ngana, bahwa justeru alasan itulah yang hendak kami tuju. Hahaha. Selain ingin acara yang sakral dan khidmat karena suasana alam Puncak, kami pun hendak menggelar project terselubung, yakni ‘seleksi alam’ untuk tamu-tamu undangan kami yang hadir. Seberapakah berarti dan pentingnya kami, di hati tamu-tamu undangan tersebut.

            Yaa, memang tak bisa dipungkiri, perkara aturan pemerintah (saat kami menikah, angka sebaran covid sedang melambung) sehingga membuat tamu yang padahal sudah on the way ke lokasi jadi mau tak mau harus putar balik karena aturan atau perkara sakit yang memang bukan keinginan dari setiap orang.

Sebagai manusia yang punya rasa, gue pribadi sangat memaklumi hal-hal tersebut, lagi pula ‘kan perasaan kita sendiri bisa membedakan mana yang berusaha pengen dateng tapi ga bisa dan mana yang emang sengaja tidak berbuat apa-apa. Oleh karenanya, kami pun sangat bersyukur, karena biarpun tamunya sediiikiiitt sekali tapi tujuan utama kami tercapai, hanya bersama dengan orang-orang yang Tuhan kehendaki, siapapun itu.

Naah, itu tadi obrolan tentang konsep besar dari pernikahan gue, yang notabene selama ini bekerja sebagai Wedding Planner di The Ganyana Wedding Services. Ini belum bahasan tentang vendor dan tim, ya. Gue sih masih pengen cerita-cerita lagi, tapi kalo emang gak ada yang tertarik ya, males juga, haha.

Jadi segitu dulu cerita tentang WEDDING PLANNER YANG NGERJAIN WEDDINGNYA SENDIRI kali ini. Semoga ada yang berguna ya..

Suksma,

The Ganyana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *