Suatu pagi, Sulaiman kecil melihat pandai emas yang bekerja untuk Istana Raja Daud as berjalan keluar dari istana dengan wajah yang terlihat sangat putus asa dan sedih. Dengan penasaran Sulaiman bertanya kepada pandai emas tersebut: “Paman, apa gerangan yang telah membuat Paman merasa begitu sedih dan putus asa?” Pandai emas itu menjawab: “Aku harus memberikan solusi bagi Raja dalam waktu tujuh hari. Jika tidak, maka aku akan dipecat dari pekerjaanku. Aku benar-benar bingung karena tidak ada solusi untuk apa yang telah diminta oleh Raja.”

“Solusi apakah gerangan yang sedang dicari Raja?” tanya Sulaiman penasaran. Sang pandai emas menceritakan kepada Sulaiman apa permintaan sang Raja: “Saya harus membuat cincin emas untuk sang Raja dengan sebuah tulisan di atasnya yang harus membantu sang Raja untuk tidak menjadi terlalu bahagia sehingga melupakan kebenaran Ilahi pada saat-saat bahagia tersebut. Pada saat yang sama, tulisan itu harus membantunya untuk tidak terlalu berduka ketika ia menghadapi kegagalan dan keputusasaan.”

Maka, spontan saja Sulaiman mengusulkan kata apa yang harus dituliskan di atas cincin itu: “Paman, tuliskan saja ‘Ini juga akan berlalu’.”

***

Sulaiman as adalah anak putra Daud as dan Raja Yudea. Ketika Tuhan tampil di hadapannya dan bertanya apa yang dia inginkan, Sulaiman as tidak meminta kekayaan atau kekuasaan. Sebaliknya, Sulaiman as meminta kebijaksanaan untuk menilai antara yang baik dan yang buruk, maka Tuhan memberikan apa yang diinginkannya.

Segera setelah menyebar ke seluruh dunia bahwa Sulaiman as adalah yang paling bijaksana dari semua Raja di dunia dan hingga seterusnya, maka Raja Mesir datang untuk mengujinya. Sang Raja mengajukan teka-teki sederhana kepada Sulaiman as, dan jika dia bisa menjawabnya, maka Raja Mesir akan mengganjarnya dengan kekayaan melimpah ruah dan yang paling penting adalah putrinya untuk dinikahi. Teka-teki itu adalah sebagai berikut:

“Apa yang bisa Anda katakan kepada seorang manusia yang tengah berbahagia untuk membuatnya bersedih hati yang juga akan membuat manusia yang tengah bersedih hati menjadi bahagia?”

Sulaiman as berpikir sesaat dan menjawab: “Gam Zeh Ya’avor” (Ini Juga Akan Berlalu).

***

Suatu hari Sulaiman as memutuskan untuk menjahili Benaiah bin Yehoyada, menteri yang paling dipercayainya. Sulaiman as berkata kepadanya, “Benaiah, ada cincin tertentu yang kuingin Anda bawakan untukku. Aku ingin memakainya saat Sukkot, berarti ada waktu bagi Anda sekitar enam bulan untuk menemukannya.”

“Jika cincin itu ada di suatu tempat di bumi ini, Yang Mulia,” jawab Benaiah, “Maka aku akan menemukannya dan membawakannya untuk Anda, tapi apa yang membuat cincin itu begitu istimewa?”

“Cincin ini memiliki kekuatan ajaib,” jawab Raja. “Jika seorang manusia yang tengah berbahagia melihat cincin itu, maka ia akan menjadi sedih, dan jika seorang manusia yang tengah bersedih hati melihat cincin itu, maka ia akan menjadi bahagia.” Sulaiman as tahu bahwa cincin semacam itu tidak ada di dunia ini, tetapi ia ingin memberikan kepada menteri itu sedikit rasa kerendahan hati.

Musim semi berlalu dan berganti musim panas, dan Benaiah masih tidak tahu di mana ia bisa menemukan cincin tersebut. Pada malam sebelum Sukkot, dia memutuskan untuk berjalan-jalan di salah satu pemukiman miskin di Yerusalem. Ia melewati seorang pedagang yang sudah mulai bersiap di hari itu dengan barang-barang dagangannya di atas karpet lusuh. “Apakah Anda kebetulan pernah mendengar sebuah cincin ajaib yang membuat pemakainya akan melupakan suka citanya serta pemakainya yang tengah patah hati akan melupakan kesedihannya?” tanya Benaiah.

Dia melihat kakek tersebut mengambil cincin emas polos dari karpetnya dan mengukir sesuatu di atasnya. Ketika Benaiah membaca kata-kata di atas cincin tersebut, senyum lebar pun mengembang di wajahnya.

Malam itu seluruh kota dalam menyambut liburan Sukkot dengan pesta besar. “Nah, temanku,” kata Sulaiman as, “Apakah Engkau telah menemukan apa yang menjadi alasanku mengutusmu?” Semua menteri tertawa dan Sulaiman as sendiri tersenyum.

Untuk mengejutkan semua orang, Benaiah mengangkat sebuah cincin emas kecil dan berkata, “Ini dia, Yang Mulia!” Begitu Sulaiman as membaca tulisan di atas cincin itu, senyum pun hilang dari wajahnya. Sang pedagang telah menuliskan tiga kata Ibrani pada cincin emas itu: Gimel, zayin, yud, yang membentuk kata Gam Zeh Ya’avor” (Ini Juga Akan Berlalu)

Pada saat itu, Sulaiman as menyadari bahwa semua kebijaksanaan dan kekayaannya yang melimpah ruah serta kekuasaannya yang besar itu hanyalah sementara, karena suatu hari nanti ia sendiri tidak akan menjadi apa-apa selain debu.

***

‎”Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Al-Hadid [57]: 23)

———————
Penulis : Alfathri Adlin

Penyunting : Aldhiwan Ali Akbar

Sumber : Aldhiwanalfatih.wordpress.com

Foto Ilustrasi  Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *