Sejak akal kita mencapai tahap kedewasaan atau dalam ajaran agama Islam dikenal dengan istilah baligh, Tuhan mengajarkan kita melalui begitu banyak peristiwa. Akal kita menyerap dan merekam semua peristiwa tersebut sehingga pengetahuan kita pun bertambah. Seiring dengan banyaknya ilmu yang kita dapat dari melihat, mendengar sampai mengalami sendiri peristiwa-peristiwa tersebut.

Seluruh peristiwa yang dihadirkan kepada kita tujuannya supaya kita mengenal diri kita sendiri. Dan ketika mengenal diri kita, kita pasti mengenalNya. Tetapi begitu disayangan ternyata masih banyak dari kita yang kehilangan momen untuk mengerti makna dari peristiwa-peristiwa yang datang. Terkadang peristiwa-peristiwa itu datang dan pergi tanpa sedikitpun mampu kita temukan maknanya. Apalagi ketika kita sedang jatuh cinta kepada dunia dan dunia sangat mencintai kita. Semakin kuat rasa cinta itu, semakin tebal kabut di akal kita.

Ketika semua unsur duniawi berdatangan, kita menganggapnya adalah sebuah kesuksesan. Semakin tinggi penghargaan orang kepada kita, maka kita akan semakin merasa sukses. Tetapi yang sebenarnya terjadi ialah sebaliknya, begitu bodohnya kita. Yang hanya mengukur kesuksesan dari ukuran dunia saja, dimana semua itu sebenarnya hanya sementara.

Ada yang kita lupa bahwa di dunia ini sebenarnya adalah kesempatan kita untuk mengumpulkan poin-poin amal. Begitu banyak poin berserakan, tinggal kita pungut dan kita kumpulkan. Dan menariknya lagi, poin-poin itu datang sendiri kepada kita tanpa perlu kita mencarinya dengan susah payah. Orang miskin, anak yatim, saudara yang kesusahan, teman yang butuh pencerahan dan ratusan poin lainnya yang datang, kadang bergerumulan datang dengan model dan bentuk yang berbeda. Persis seperti kita main game, dimana datang poin-poin bonus yang kita kumpulkan supaya bisa masuk ke level yg lebih tinggi.

Tapi, pahamkah kita bahwa itu poin yang harus kita ambil? Bodohnya kita lagi, ternyata dan ternyata kenyataannya kita selalu mengabaikan poin-poin yang jelas-jelas ada di depan mata kita. Kita tolak mereka yang datang meminta bantuan karena kita lebih mementingkan kenyamanan diri kita sendiri. Kita sibuk mengumpulkan dan mempertahankan harta, sehingga dalam hidup kita justeru tidak berbuat apapun.

Kita tahu bahwa suatu waktu kita pasti akan ditanya, tapi kita ada kemungkinan tidak pernah mempersiapkan jawabannya, bahkan mungkin belum tentu memedulikannya. Tidak ada yang kita lakukan di dunia selain memikirkan diri kita sendiri. Kita ada tetapi kita tidak ada. Orang lain tidak mendapatkan manfaat apapun dari keadaan kita. Mereka hanya kenal kita secara fisik, yang memorinya bertahan saat mereka mengantarkan kita ke liang kubur sesudah itu hilang. Mereka tidak mengenal kita secara ruh, dimana meskipun jasad kita sudah tidak ada, tetapi mereka merasakan kehadiran kita dengan apa yang kita tinggalkan semasa hidup.

Pertanyaan yang tajam akan menghunjam kelak, seperti apa yang kamu lakukan di dunia dengan semua ilmumu, hartamu dan ibadahmu? Apakah semua itu berfungsi untuk membantu sesamamu?

Karena semasa hidup kita bodoh, maka matipun kita dalam kondisi bodoh. Tidak paham harus menjawab apa nantinya ketika diminta pertanggung-jawaban terhadap fungsi kita di dunia ini. Seperti seorang murid yang tahu bahwa sebentar lagi ada ujian kelulusan, tetapi ia tidak mau belajar meski ia tahu dengan begitu ia terancam tidak lulus. Ketika akhirnya berhadapan dengan kertas soal, satupun tidak ada yang mampu dijawabnya karena memang ia tidak mengerti. Dan begitu dia berharap akan lulus?

Akal adalah anugerah paling mulia yang dihadirkan Tuhan untuk mendampingi manusia. Tidak mudah memang untuk melangkah, tetapi setiap kita menahan langkah, satu poin lagi akan hilang terabaikan..

————————————-

Penulis : Denny Siregar

Sumber : Facebook

Foto Ilustrasi : Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *