Teman saya meninggal dalam usia 57 tahun. Yang saya tahu bahwa seumur hidupnya tidak pernah sakit parah. Dia tidak ada penyakit genetic seperti kolestrol, asam urat , diabetes. Jadi wajar bila berita kematiannya membuat saya terkejut, apalagi menurut cerita bahwa hanya satu hari dia diopname di rumah sakit, nyawapun melepas dari raganya. Jauh sebelum dia meninggal, saya memang melihat wajahnya semakin pudar. Saya tahu bahwa dia lelah dan merasa kalah dalam usia menjelang senja. Karena melihat keadaan anak anaknya yang tak ada satupun yang mapan. Kehidupan ekonominya yang juga semakin buruk. Sementara istrinya kena diabetes yang berkali kali masuk rumah sakit. Dia pernah mengatakan dia merasa putus asa.

Sejak itulah , dia acap murung. Berkali kali saya katakan agar dia bersabar dan melihat hikmah atas setiap masalah yang datang. Dia tidak perlu kawatir. Dia masih punya rumah. Masih punya keluarga. Kalau ada masalah yang tak bisa diatasi, keluarga besar selalu ada untuk membantu. Ini nikmat yang luar biasa dari Allah kepadanya. Dia harus bersukur. Tapi dia tidak melihat itu semua. Memang seumur hidupnya dia bekerja keras untuk membahagiakan keluarganya. Semua cara dia lakukan untuk kemajuan usahanya. Kadang saya perhatikan dia tidak peduli lagi akan resiko. Namun ketika sedang menuju puncak , akhirnya jatuh tersungkur begitu saja. Dia tidak menyerah. Dia bangkit lagi. Berjuang lagi dan akhirnya jatuh lagi. Saya senantiasa memberikan semangat agar dia terus berjuang dan berjuang sampai ajal datang.

Tapi berjalannya waktu menuju usia menjelang senja ini dia merasa tak ada lagi kekuatan untuk berbuat seperti dulu. Baginya , masa lalu yang suram dan masa kini tetap suram maka masa depan yang belum terjadi dianggapnya juga suram, maka hilanglah harapan. Ketika orang kehilangan harapan maka separuh jiwanya sudah mati. Mengapa ? Karena harapan adalah sesuatu yang baik. Bahkan sangat baik. Ia menuntun kita dalam gelap dan membawa kita melewati onak dan blukar kehidupan. Dengan harapan membuat kita hidup. Kita bergerak. Ketika orang berputus asa maka kreatifitas nya juga mati. Semangatnya juga mati.

Berdasarkan pengalaman yang saya ketahui bahwa apabila seseorang sudah tidak lagi punya harapan, umurnya menjadi pendek. Penyakit mudah datang. Aura wajahnya memudar. Orang yang cerdas tahu makna hidup,bahwa hidup adalah proses menjadi sempurna dan ukuranya bukan materi tapi amaliah. Sesungguhnya, berputus asa karena hopeless merupakan kerugian yang pasti karena kebahagiaan semakin sulit di raih dan hari hari tidak membuatnya berkembang tapi membunuhnya lambat lambat.Dia lupa bahwa manusia tidak boleh putus asa dengan rahmat Allah. Makanya sabar itu penting dan jadikanlah itu sebagai penolong.

Anak-ku, hidup bukanlah sesuatu yang terlalu serius sehingga harus di ukur dengan materi berlebih sesuai keinginan. Hidup adalah proses menemukan diri dan menemukan jalan pulang dengan sebaik baiknya bekal. Jangan perna berpikir negatif sehingga mengutuki hari ini yang terjadi dan kehilangan harapan untuk besok. Berpikir positif lah selalu. Sebaik baiknya hidup adalah umur panjang dan banyak manfaatnya bagi orang lain.

Pahamkan sayang.

Penulis : Erizely Bandaro

Sumber : Facebook

Foto Ilustrasi : Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *