Di Taman Hidup, kutemukan Teman Hidup

Kami sudah saling mengenal dari beberapa tahun sebelumnya (Jan 2015) saat kami hendak menuju puncak Gunung Murana (1119 mdpl) bersama banyak rekan anggotan komunitas jalan-jalan. Namun, aku baru mengizinkan “pintu gerbang” hatiku terbuka ke arahnya justeru di Maret 2018. Ketika kami hendak menuju puncak Gunung Argopuro (3.088 mdpl) bersama dua rekan kami yang lain.

Diam-diam secara ganyana, kami tengah berada dalam frekuensi, energi dan vibrasi yang sama, walau dalam situasi berbeda. Disaat aku ingin menyerah pada uji coba kelayakan hidup yang tiada habis-habisnya ‘membombardir’ku, disaat yang sama pula ia ingin menyerah untuk tak lagi ‘mengejar’ku.

Kami sedang sama-sama kecewa dan sudah enggan lagi mengharapkan apa-apa. Bedanya, ia belum kehabisan tenaga untuk bertahan, sementara aku sudah amat sangat kelelahan. Diperparah dengan kenyataan bahwa kedua orang tuaku sudah berpulang, sehingga aku sudah tak lagi memiliki alasan apapun untuk tetap melanjutkan kehidupan.

Sekonyong-konyong ia melesat cepat, walau tengah memikul beban tas super berat (20kg) demi menggagalkan aksiku yang hampir berhasil menggelinding ke jurang. Ia pun berusaha sangat keras membantuku tersadar ketika aku diterpa hipotermia keesokan harinya. Padahal yang terjadi sebenarnya, itu adalah agenda lanjutanku untuk tetap kembali ‘selesai’.

Tak sampai disitu, ketika perjalanan menuju camp penduduk, aku tak henti-hentinya menangis, berteriak, mengutuki diri sendiri, menyalahkan dia, membenci apapun dan siapapun yang hendak terlintas di kepalaku, tapi yang ia lakukan justeru hanya diam sambil mungkin mencoba memaklumi. Karena tak ada kalimat lain darinya selain “ayo, jalan lagi” atau “pelan-pelan gak apa-apa, yang penting kita tetap harus terus jalan.”

Dalam nuansa limbung, aku tertegun merasakan usaha kerasnya, bahkan acapkali kuragukan kebaikannya. Karena menurutku itu hanya ‘akal-akalannya’ demi mencapai tujuan, bukan sejatinya ketulusan.

Aku tergolong orang yang cukup mudah untuk ‘mengendus’ pengguna topeng, tapi aku justeru seperti kesulitan untuk mendapatkan bukti ‘bau busuk’ dari dirinya. Sehingga pelan-pelan aku tersadar untuk tak ingin lagi mengintervensi apapun yang sebenarnya sudah di gariskan untuk terjadi.

Harapanku sederhana sebagai manusia dan wanita. Aku ingin diperlakukan sama. Tanpa diskriminasi gender, strata usia, ekonomi atau apapun juga. Karena menurutku yang menjadi pembeda antara manusia hanyalah kualitas nyata bagi jiwa-jiwa yang merasakannya.

Selama tiga tahun kami mempersiapkan diri sebelum hari pernikahan (2021), tiada habis-habisnya kami membahas apapun mulai dari hal-hal yang tidak disukai, tak ingin diulangi dan juga perlu diperbaiki dari masing-masing kami.

Aku tak tahu bagaimana sebenarnya curahan hatinya terhadapku, tapi yang aku tahu ia sangat berjasa dalam mengikis trauma dan memfiltrasi tengki racun yang selama 15 tahun ini membendung ‘kabut’ depresi dalam psikisku. Walau tentu saja, cara-cara yang ia gunakan kadangkala bisa tepat, namun tak jarang juga justeru memancing ‘kebakaran’ yang lebih besar bagi dirinya sendiri terutama.

Sejatinya mungkin ia tak sebagus yang aku gambarkan, hal ini pun berlaku untuk aku pribadi yang memang masih sangat jauh dari keelokan. Namun perlahan, melalui konsep Wabi Sabi, pemikiran Stoikisme dan Taoisme yang akhir-akhir ini aku kembali ‘selami’, aku nampaknya mulai mengerti mengapa Tuhan seperti sengaja tidak mendesign kesempurnaan dan persamaan untuk manusia. Mungkin jawabannya untuk terus berproses bersama dengan manusia lainnya yang berbeda-beda, hingga satu per satu manusia saling tutup usia.

Aku berkesimpulan bahwa, perkara Teman (manusia) dan Hidup memang amat sangat sulit untuk bisa dinyana dengan bagaimana pun caranya. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah terus berproses (belajar), baik yang sudah maupun yang belum dipahami. Karena hanya dari terus melakukan itu, aku (dan mungkin kita) bisa terhindar dari perasaan paling benar dan paling tahu atas segala sesuatu yang justeru tidak pernah benar-benar bisa kita tahu. Termasuk mengenai apakah kami bisa terus menjalani komitmen untuk terus saling belajar menghargai lagi mengasihi hingga dimensi ini sudah tak sama lagi.

Suksma,

*DR.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *