Sebuah mobil sedan hitam keluaran tahun 2000-an tengah masuk ke pelataran sebuah rumah sakit di bilangan tengah kota, Rumah Sakit Jantung Budi Raharja.

“Pak Cahyo, langsung ke lobby aja ya. Nanti biar pas Copi daftar, Pak Cahyo temenin papa dulu di mobil. Bolak balik soalnya kalo papa ikutan Copi.” Ujar seorang wanita yang memanggil dirinya dengan sebutan Copi, yang mengenakan kaos lengan panjang berwarna abu-abu tua dengan celana jeans panjang dan sepatu khas anak sekolah yang dengan sengaja ia injak, karena terlalu malas untuk memakai kaos kaki.

“Siap Mbak Copi..” Jawab Pak Cahyo, supir kepercayaan Papa Copi.

“Papa, nanti sekalian solat ashar dulu aja ya. Dianterin sama Pak Cahyo, nanti Copi tungguin di luar. Copi lagi gak solat soalnya.” Ujar Copi kepada papanya yang masih asik bersandar dan memperhatikan pemandangan luar jendela dari kursi depan

“Yaa” Jawab Papa Copi singkat.

“Semoga ga banyak-banyak yaa nomer antriannya.” Harap Copi sambil membuka pintu belakang mobil papanya.

“Aamiin.” Terdengar sahutan dari Pak Cahyo sebelum Copi menutup pintu mobil.

***

Semilir angin sore tengah menghampiri wajah yang sedang di sesaki oleh rambut-rambut halus yang kian hari kian mengisi area tak bertuan di sekitar area bibir, pipi hingga atas leher dari seorang pria berperawakan tinggi, berkulit kecoklatan dan berwajah timur tengah.

Sambil menunggu waktu panggilan ashar berkumandang, raganya mematung durja di depan balkon lantai empat Rumah Sakit Budi Raharja. Pria ini tengah mempersilahkan angan dan pikirannya untuk melanglang buana, entah kemana.

“Enak kali ya, kalo saya bisa punya temen cerita seru sepanjang hidup. Yang mau diajak pergi kemana aja, ga cuma mikir nyaman terus-terusan. Yang gak komplen kalo diajak susah, gak ngelunjak kalo diajak seneng, tapi bisa terus belajar bareng-bareng.” Gelitik batin Malik sambil merasakan hembusan angin sore yang begitu hangat.

“Hadeeh.. Masa iya sih, udah tujuh tahun lebih saya di sini masih ga ketemu-ketemu juga sampai sekarang. Segitu ga adanya apa stok perempuan kayak gitu di jaman sekarang??” Imbuh batin sang pemilik ID Tags yang bernama lengkap Ziyad Malik el Wardi. Seorang dokter spesialis jantung & saraf RS Budi Raharja.

Hembusan angin sore masih setia menemani Malik beserta lamunan sendunya. Pandangannya banyak tertuju pada sekitar area rumah sakit yang bisa dikatakan cukup sepi dari orang yang lalu lalang, karena RS ini memang khusus untuk perawatan penyakit jantung saja, tidak digabung seperti RS pada umumnya. 

“Permisi dok..” Ujar salah seorang petugas kebersihan yang sedang sibuk mengepel lantai rumah sakit.

“Oh. Silahkan.” Malik pun bergeser ke tempat lain supaya tidak mengganggu pekerjaan pekerja kebersihan yang di seragamnya tertulis nama Dicky.

Melihat nama Dicky, ia pun kemudian langsung teringat sebuah ucapan menjengkelkan dari seorang sahabat kecilnya, yang juga bernama sama dengan petugas kebersihan ini.

“Urusan pekerjaan mapan mah, bolehlah maneh sombong. Bisa jadi kebanggaan, tapi buat urusan percintaan seringnya justeru aing yang paling terdepan. Hahahaa.” perkataan tersebut begitu terngiang di benak Malik. 

“Sial, kenapa saya malah jadi keingetan sama omongannya si cimol goreng sih.” Kesalnya sendiri sambil melirik layar jam digital di tangan kanannya. 

Malik membalikkan badan dan berjalan ke arah tangga darurat. Sayup-sayup terdengar, kumandang adzan ashar ketika ia mulai berjalan menuruni tangga untuk menuju ke arah masjid di basement rumah sakit.

***

Pintu lift terbuka.

Copi keluar dari mulut lift dan berjalan menuju tempat pendaftaran pasien yang terbilang cukup sepi.

“Kartunya mbak..” Ujar Ibu petugas pendaftaran.

Copi pun menyerahkan kartu yang sudah ia siapkan di tangannya.

“Pak Sofyan Iskandar, nomer dua puluh delapan ya, Mbak.” Ujar ibu itu lagi sambil menyerahkan kembali kartu rumah sakit tadi pada Copi.

Mimik wajah Copi sedikit kaget, mengingat menurut pikirannya ia merasa sudah datang lebih awal dari biasanya, namun tetap juga mendapat nomor di angka besar. “Iya. Terima kasih.” Jawab Copi sambil kembali berjalan ke arah lift.

Ketika di dalam lift Copi mengecek ponsel yang ada di kantongnya. Ada pesan dari Pak Cahyo bahwa ia dan papanya sudah berada di musholla rumah sakit. Lalu Copi pun menekan tombol lantai dimana musholla rumah sakit tersebut berada.

Copi sampai di pelataran musholla yang di depannya terdapat tangga untuk menuju ke arah tempat sholat. Ia pun menanti papanya dengan setia di pinggir tangga beserta alas kaki papanya yang sudah ia siapkan.

Malik tampak bergegas ketika Imam musholla baru saja mengumandangkan Allahu Akbar untuk gerakan tahiyat awal. Waktu sudah menunjukkan bahwa ia sudah harus segera kembali ke ruangan untuk bekerja.

Di perjalanan kembali ke ruang prakteknya, sesekali ia masih mencuri-curi kesempatan untuk bisa meneruskan lamunannya walau sejenak. Ia pun menekan lift ke arah naik. Sembari menunggu pintu lift terbuka ia pun menyusun sebuah rencana. 

“Gara-gara keingetan sama omongan Diki tadi, jadi kangen sama alam Garut, ke rumah dia aah. Udah lama ga jadi Malik yang asli.” Ujarnya dengan wajah cerah sambil kakinya melangkah masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka.

“Sore Dok..” Sapa seorang suster berseragam biru yang berada terlebih dahulu di dalam lift.

Malik hanya mengangguk dengan air wajah dingin.

Tiga Jam berselang . . .

Rasa lelah mulai terasa jelas menjalar. Terutama dari area belakang leher hingga punggung. Malik hanya menghela nafas usai melihat masih sekitar 10 tumpukan berkas pasien lagi yang belum tersentuh apalagi ditangani. 

“Dicukupkan 10 ini aja ya. Selebihnya tolong minta dokter lain yang nanganin.” Ujar Malik pada Suster Eva. 

Suster berusia paruh baya yang sudah membantu Malik di RS ini sejak lima tahun belakangan. Malik pun tampak kembali berusaha menyiasati dirinya untuk terlihat sehat dan baik-baik saja dihadapan pasien-pasiennya.

“Baik dok.” Jawab Suster Eva sambil mengangkat gagang telepon yang ada di dekatnya.

Saat ini Malik baru saja menggantikan dokter yang telah berpulang ke pangkuan Illahi. Sehingga untuk sementara waktu ia terpaksa masih harus mengikuti berbagai aturan dan sistem dari dokter yang terdahulu. Yang mana dokter spesialis sebelumnya tidak pernah membatasi jumlah pasien yang datang dan menerima pasien rujukan dengan sangat terbuka, sementara ia berbeda.

Malik terkenal sebagai dokter yang sangat membatasi diri, sehingga ia tidak peduli pada seberapa banyak pasien yang datang padanya, tapi ia jauh lebih peduli pada bagaimana progres kesembuhan dari pasien-pasien yang sedang ia tangani.

Sementara Malik sedang mencuci tangannya dengan sabun antiseptik, Suster Eva pun berjalan ke arah mulut pintu. 

“Bapak Sofyan Iskandar,” Ujar Suster Eva dengan nada sedikit kencang agar lebih terdengar.

Dua orang pun berdiri dari kursi tunggu dan berjalan menghampiri mulut pintu.

“Silahkan, rujukan Prof. Syafruddin Mukhlis. Ada keluhan apa bapak Sofyan?” Ujar Malik sambil mempersilahkan duduk dua orang yang baru saja memasuki ruangan kerjanya.

“Jantungnya jadi lebih sering sakit dok,” Jawab seorang perempuan yang sedang berdiri disamping orang yang bernama Pak Sofyan.

Malik yang sebelumnya sedang sibuk memelajari riwayat penyakit Pak Sofyan dari lembaran kertas yang sedang ada di hadapannya tiba-tiba saja tampak bergeming sejenak. Karakter suara tersebut seolah-olah membekukan arus kerja otaknya seketika.

Malik pun mendelik ke arah asal suara, lalu kembali fokus dengan petunjuk-petunjuk di dalam kertas yang  ada di hadapannya.

“Mari saya cek dulu Pak Sofyan,” Pinta Malik sambil berdiri dan mengajak Pak Sofyan untuk mengikutinya menuju bangsal pengecekan.

Setelah selesai mengecek ritme jantung dan memastikan beberapa hal dari badan pak Sofyan, anak perempuannya tampak sangat sigap membantu ayahnya untuk duduk, berdiri, mengancingkan baju hingga kembali ke kursi.

Saat anak perempuan Pak Sofyan ini menghempaskan badannya ke kursi, lagi-lagi Malik seperti tersihir oleh sesuatu selama beberapa saat.

“Wangi bayi.” Cerna otak Malik beberapa detik kemudian. Malik pun menyemburatkan senyum tipisnya.

“Jadi, gimana Dok kondisi papa saya?” Tanya anak perempuan Pak Sofyan.

Nampaknya Malik masih sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tak menyadari ada pertanyaan yang sedang menghampirinya.

“Dok??” Panggil anak perempuan Pak Sofyan.

“Ya? Eehm, sorry. Barusan nanya apa?”

“Gimana kondisi papa saya, Dok?” Ujar anak Pak Sofyan mengulangi pertanyaanya.

“Sebenarnya ritme jantungnya sudah bisa dikatakan cukup bagus, 11/7, jadi laxicnya sudah bisa saya hentikan sementara waktu. Tapi nanti kalau kakinya bengkak lagi, bisa diberikan lagi. Tentunya sesuai dengan kebutuhan pasien.” Jawab Malik.

“Kalau jantungnya jadi sering sakit, itu kenapa sih Dok?” Tanya anak perempuan Pak Sofyan dengan nada meledek.

“Terlalu capek, bisa.. terlalu banyak yang dipikirkan, bisa..“

“Kalau terus-terusan capek dan banyak pikiran, nantinya bisa kenapa sih Dok?” Tanyanya lagi sambil melirik ke arah Pak Sofyan dengan lirikan jengkel.

Malik tersenyum sambil memerhatikan raut wajah Pak Sofyan. Nampak sekali anak perempuannya ini cukup pintar untuk menodong perilaku ayahnya yang mungkin saja sudah sangat membuatnya kelelahan.

“Nanti jadi sering lihat saya di rumah sakit ini Pak Sofyan.” Tutur Malik seolah berkomplot dengan wanita beraroma bayi tersebut.

Anak Pak Sofyan pun membalas ucapan Malik dengan senyuman manis. Seolah berterima kasih karena ada yang membantunya saat ini.

“Elok. Tak kurang dan tak lebih.” Itulah reaksi pikiran Malik seketika.

“Tuuuh, dengerin Pah. Papa emangnya mau nginep lama dirumah sakit lagi? ‘Kan udah sering dari kapan tau. Kayaknya emang seneng nih, memperkaya yang dokter sama yang punya rumah sakit.” Ledek anak Pak Sofyan ini lagi.

“ffogsilufhewigfrlgvnlfebafhfifs,” Ujar Pak Sofyan yang nampak berusaha sangat keras untuk bisa menukas kicauan anaknya ini, namun gagal karena ucapannya yang tak jelas pasca stroke yang telah dideritanya empat tahun silam.

“Papaku ini gatel banget Dok mau ngobrol lagi kayak dulu, tapi gengsi kalau harus belajar huruf dan baca dari awal. Apalagi belajar sama anaknya. Jadi baiknya gimana ya dok? Biasanya kalau dokter yang ngasih tau, papaku mau deh buat nurut. Apalagi kalo dokternya arab, haha!” Jelas anak Pak Sofyan dengan ramah.

Malik sebenarnya sempat menampilkan guratan senyum tulusnya namun usai mendengar kalimat akhir dari anak Pak Sofyan, senyuman itu pun berubah menjadi dipaksakan.

“Apa hubungungannya saran dari dokter sama arab?” Tanya Malik sedikit ketus sambil sibuk menulis resep lanjutan untuk obat minum pak Sofyan.

“Harusnya emang ga ada Dok, tapi buat papaku ada. Ya ‘kan pah?” Jawab anak Pak Sofyan.

“Apa?” Tantang Malik.

“Apa pah?” Tanya balik Anak Pak Sofyan sambil menoleh ke arah papanya.

Merasa tak mungkin mendapat jawaban menjawab atas pertanyaannya, Malik pun menghela nafasnya sambil kembali meneruskan tugasnya

“Gengsinya kalau sudah lancar ngomong lagi aja pak Sofyan. Sekarang-sekarang ini, suka gak suka memang harus banyak latihan ngomong dan baca huruf lagi dari awal.” Saran Malik sebagai profesional dokter. 

“Pasien stroke memang butuh waktu untuk kembali seperti dulu, apalagi bapak sudah empat tahun. Memang cuma sabar aja yang jadi kunci jawabannya.” Ujar Malik sambil membubuhi tanda tangan dan cap namanya pada resep obat yang ada dihadapannya.

“Sebentar Dok.. Pah, kaki kanannya masih suka sakit gak, pah?

Pak Sofyan menjawab dengan anggukannya.

“Itu kenapa ya dok?”

“Bisa dari efek serangan stroke lalu. Karena jatuhnya ‘kan dibagian kanan, jadi kemungkinan sarafnya masih belum betul-betul pulih seperti sediakala”

“Kalau kakinya jadi banyak titik-titik hitam gosong gitu, itu kenapa dok?”

“Bisa saya lihat seperti apa?” Ujar Malik sambil melihat kaki pak Sofyan yang sudah siap posisi untuk dilihat.

“Oh, ini cuma efek samping obat. Karena obat yang diresepkan Prof. Mukhlis cukup keras, jadinya tubuh Pak Sofyan ngasih respon dengan kondisi seperti ini.”

“Ada efek lainnya kah?” Tanya anak Pak Sofyan yang masih penasaran.

“Apa contohnya?”

“Yaa, apa gitu?

“Yaa apa??? Apa gitunya itu, misalnya apa??” Tanya balik Malik dengan lebih detil.

Tak ada jawaban. Hanya ada delikan tajam saja dari anak Pak Sofyan.

“Intinya, diimbangi dengan jogging teratur dan tidak banyak pikiran, Insya Allah akan lebih bugar untuk setiap pasien jantung dan stroke, Pak Sofyan.”

“Bisa hilang tapi ‘kan dok, yang hitam-hitamnya itu? Pakai apa ya? Lulur bisa??” Tanya ia lagi.

Malik menahan tawa menanggapi pertanyaan lugu tersebut.

Anak Pak Sofyan ini kemudian menoleh pada ayahnya dengan sebuah makna tersirat dan kembali memerhatikan kaki ayahnya dengan begitu penasaran.

Beberapa kali Malik terlihat begitu menikmati momen dimana ia bisa memandangi perilaku anak Pak Sofyan dengan seksama. Ia memang suka sekali dengan orang yang tulus memberikan perhatian. Dan baginya, apa yang sedang ia lihat saat ini adalah bentuk kepedulian dalam bingkai yang lebih elegan dari yang biasanya ia lihat.

“Ada lagi yang mau ditanyakan, mbak?” Tanya Malik menyudahi sesi dialognya sambil berdiri dan mengajak anak Pak Sofyan untuk berjabat tangan.

“Cukup dulu dok. Makasih ya,” Jawab anak Pak Sofyan yang ternyata sudah kembali disibukan dengan membangunkan ayahnya dari kursi.

Tangan Malik pun dianggurkan selama beberapa saat, hingga akhirnya Pak Sofyanlah yang menjabatkan tangannya dengan tangan Malik, bukan anaknya.

Malik pun keki, sementara di belakang Malik, Suster Eva sedang berusaha kuat untuk tidak memperdengarkan suara tawanya yang ternyata terdengar juga di telinga Malik.

Malik pun menoleh dengan lirikan tajam sambil berdehem dengan sedikit kencang.

Sesudah memastikan mereka telah keluar dari ruangan, ternyata di benak Malik masih menyisakan sebuah pertanyaan,

“Suara anak Pak Sofyan itu tadi, mirip siapa ya? Kayak sering dengar. Tapi siapa ya?? Kenapa jadi mendadak lupa begini???” Tanya Malik di dalam hati sambil kembali mempersilahkan duduk pasien selanjutnya.

Satu jam kemudian.

Jam praktek Malik pun akhirnya usai. Tepatnya sengaja ia usaikan karena badannya sudah tidak kuat menahan lelah. Sudah dua hari ini ia belum pulang ke rumah, karena ia sedang banyak memimpin operasi besar sejak beberapa hari kemarin.

Saat hendak berjalan ke parkiran, pikiran Malik pun kembali pada ingatan wajah juga potongan suara anak Pak Sofyan Iskandar tadi.

“Kenapa saya jadi keingetan anak Pak Sofyan itu terus?? Dan suaranya itu.. mirip siapa ya?? Kenapa masih belum inget juga sih?? Payah amat.” Gerutu Malik sambil membuka pintu kendaraan roda empatnya dan lalu meninggalkan parkiran RS Budi Raharja.

.

bersambung..

.

Karya Penulis : Dyana Razaly

Foto Ilustrasi : Unsplash.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *