Dalam setiap nafasnya, manusia diciptakan adalah untuk bersyukur. Bersyukur terhadap semua hal yang telah dianugerahkan dalam dirinya dan yang mengelilingi hidupnya.

Nama saya Malik. Saya adalah seorang pemerhati. Namun saya sering kikuk jika balik diperhati. Entahlah. Mungkin karena terlalu lamanya saya menyendiri. Dalam Pekerja Tidak Tetap ini

Saya berprofesi sebagai ahli medis. Namun hati saya berkata bukan. Tapi tak apa. Selama hal yang diinginkan orang tua saya baik. Saya Insya Allah ikhlas menjalani, walaupun sebenarnya bukan sebuah panggilan dari hati.

Saya anak bungsu dari dua bersaudara. Kakak perempuan saya meninggal karena sebuah alasan medis sementara ayah dan ibu saya pun seolah tak ingin berpisah dari kakak saya tersebut. Kedua orang tua saya secara bersamaan pun berpulang ke pangkuan Ilahi tepat satu tahun kurang lima hari dari tanggal kakak saya mendahului, akibat tragedi kecelakaan .

Ayah dan ibu saya menikah dengan sebuah alasan hati yang kuat sehingga meski kedua keluarga tak ada yang menyetujui, mereka tetap melaluinya dengan keyakinan, bahwa ketika Tuhan sudah memberikan petunjuk dan kemantapan hati dalam solat hajat juga istikharah, tentu sisanya adalah sebuah pemaknaan dari kata keikhlasan. Apapun implikasi dari sebuah keputusan, tetap harus dihadapi dengan kelapangan, meski akhirnya harus banyak kehilangan keluarga dan kepercayaan. Oleh karenanya saya tak banyak mengenal siapa-siapa saja saudara dari ayah dan ibu saya. Sebenarnya ada yang masih saya ingat, namun setelah sekian lamanya pergi dan menghilang demi menghindari kesedihan hati, entahlah apakah saya masih mampu mengingat dan begitu pula sebaliknya.

Saya terbiasa sendiri dan menyendiri. Keluarga inti telah semuanya berpulang, sehingga memaksa saya untuk membiasakan diri hidup bergantung hanya pada tangan Tuhan. Namun saya suka sekali memperhatikan wanita, terutama yang tidak terlalu cantik namun memiliki wajah berkarakter kuat terhadap sebuah tujuan. Oleh karenanya sulit sekali bagi saya merasa nyaman dengan sembarang perempuan karena yang saya cari bukan sekedar kecantikan dan keindahan. Namun pemaknaan dari sebuah ketulusan.

Teman-teman baik saya seringnya menertawakan ketika saya menyatakan bahwa saya tak suka wanita rupawan. Entahlah. Namun itulah yang terasa dengan sebenar-benarnya. Bukan karena saya pernah atau sering dikecewakan, namun justru karena saya tak ingin kecewa itulah sebabnya saya lebih memilih untuk tidak suka sebelum akhirnya kecewa.

Saya sadar, tidak berarti semua wanita rupawan tidak memiliki ketulusan, namun presentase probabilitas yang ada disekeliling saya menyatakan hal itu. Untuk dirinya sendiri saja mereka sering berbohong, bagaimana dengan orang lain. Entahlah. Untuk hal ini, saya tak bisa dan tak mau terlalu dalam menyuarakan isi kepala saya tentang wanita. Selain belum tentu benar, nanti akan menimbulkan kesan bahwa saya seolah tak suka wanita. Padahal bukan begitu maksudnya. Saya hanya tak paham, namun sejujurnya saya tertarik untuk belajar memahami asal dengan  orang yang tepat dan mampu membuat saya nyaman untuk mendalaminya. HAHA.

Hari ini saya kembali mengabdi untuk ibu pertiwi. Usai sudah pendidikan spesialis di negeri Adolf Hitler yang saya jalani tiga tahun terakhir. Dan kini tujuanku hanyalah satu, mencari istri. Di usia genap tiga puluh lima tahun lebih lima belas hari ini saya rasa, saya siap untuk memenuhi tuntutan keuangan dan ragawi sebagai seorang suami. Namun tetap rasanya sulit sekali menemukan sang tambatan hati.

Beberapa kali saya sudah mengirimkan email pada rekan baik saya yang kini telah menjadi seorang Da’i. Ia tak banyak berkata, namun lebih banyak tersenyum. Entahlah apa maksudnya. Namun saya percaya senyuman itu bukan sebuah hinaan. Karena yang saya cari bukan wanita sembarangan dan prinsip yang selama ini saya pertahankan pun bukan sebuah kenistaan, jadi buat apa merasa sungkan. Saya hanya mencari ketulusan. Sesederhana itu. Ya. Tampak sederhana dalam tulisan dan lisan, namun belum tentu pada kenyataan.

***

Sudah lima bulan dari kepulangan, rasanya tetap sulit untuk mendapatkan. “Sesulit inikah dalam mendapatkan harapan?,” kesah saya pada Tuhan. Saya hanya lelaki normal yang rindu diberi kasih sayang. Sebagai pengganti dari dua belas tahunnya saya ditinggalkan. “Se-tak layak itukah saya mendapatkan?,” Pertanyaan itu lagi-lagi membungkam pikiran.

“Saya terlalu takut untuk ditinggalkan. Apakah hal itu sebuah kesalahan?”

“Sabar, boi. Ini ujian. Ente aje sanggup belajar melulu ampe entu rambut abis begitu. Masa sama ujian kesabaran gini doang ente cemen” ujar Zaki. Teman akrab saya dari TK yang kini telah menjadi da’I dan memiliki 7 orang anak.

“Ya. Sebenarnya saya bingung nih. Saya yang terlalu lama atau elu ya yang terlalu produktif ya? Itu beneran anak lo tujuh? Yakin manusia semua? Haha!”

“Campuran kayaknya Lik haha! Ente kayaknya gantengan diem dah Lik, sekali ente bekoar hati ane sering koreng. Hahaha! Untung kite temenan dari kecil, kalo kaga, yaahh maap-maap kata dah Lik. Ane mendingan baca tulisan ante aje dah. Hahaha.

“HAHA! Jangan gitu dong, kan maksud saya Cuma becanda haha”

“Iyee, ane juga sekalian becanda tuh tadi, sukur-sukur didenger, kalo kaga juga jangan diulangin yee hehe”

“Gini Lik, Kalo ane sih mikirnye itu rejeki boi. Ane duluan dikasih rejeki yang bentuknya cinta kasih dari manusia ama Allah. Kalo ente kan dari dulu dikasihnye duit ame otak tuh yang kayak orang baru pilek. Encer bener haha. Laen-laen dah. Yee.. jadinye ane duluan dah yang punya anak ampe bererod gini. Haha!”

“Apa tuh Zak, bererod?”

“Lah. Ente udah lupa yak ama bahasa engkong ente endiri?”

“Haha! Iya nih parah ya. Udah ketiban-tiban sama bahasa elien yang lain. Maaf banget”

“Wah kaco nih kalo banyak anak keturunan Betawi yang kayak ente. Kebanyakan bergaul ama bule sih yee. Haha. Pape dah, Ade bagus ade kaganye.”

“Hehe. Iya Zak, terus arti bererod tadi itu apa?”

“Ohh iye. Artinye bererod tuh beruntutan gitu dah Lik.”

“Oh Iya iya. Agak-agak ingat dulu ada yang pernah ngomong itu”

“Terus jadinye mau ente pegimane nih?”

“Itu dia Zak yang saya gak tau. Tapi doa sama Tuhan sih insya Allah selalu setiap waktu”

“Sedekahnye banyakan dah kalo gitu. Biar makin banyak kebantu sama rejeki ente, makin banyak yang doain, jadi berkahnye bisa manggil hati perempuan kayak ente pengenin.”

“Gitu ya?”

“Sepemahaman ane sih gitu dari nafsirin firman Allah, omboi. Insya Allah dah.

***

Sepertinya saya butuh liburan. Meluangkan waktu untuk berdialog lebih dalam dengan diri sendiri, alam semesta dan juga Tuhan.

Esok pagi saya sampai di Garut. Menemui teman lama saya yang gemar panjat tebing. Saya ingin bersilaturahmi sekaligus melepaskan hasrat ini ke arah yang lebih positif. Olahraga. Mungkin panjat tebing dan naik gunung bisa membantu saya meredakan segala tuntutan ragawi ini.

Sudah lama sekali saya tidak berangkutan umum jalur darat untuk sampai ketempat tujuan selama di Indonesia. Seingat saya sepertinya terakhir kalinya itu SMP sebelum saya pindah ke negeri orang untuk melupakan kesedihan dan memulai segalanya dengan hal-hal yang baru. Kini saya menjalaninya lagi. Sungguh saya rindu Indonesia dan masa kecil saya. Masa dimana hal yang membuat saya sedih hanya perkara tidak diberi uang jajan lebih oleh ayah atau ketika dimarahi ibu karena saya mengusili kakak saya hingga ia teriak kesal dan bahkan seringnya sampai menangis. Energy saya sebenarnya berlebih, makanya ibu saya membebani saya beragam les dan kegiatan outdoor daripada saya mengusili orang rumah hingga semuanya geger. Haha. Sungguh rindu, namun rasanya semua itu begitu cepat sekali berlalu.

Ada orang yang rapuh namun menutupinya dengan duri, alias menjadi pribadi yang galak dan tertutup. Yang mungkin cukup aneh, saya memang tidak menjadi pribadi yang galak, tapi saya memilih menjadi pribadi yang terkesan anti-sosial dan malas berbicara. Namun telinga saya tetap bekerja dan kepala saya tak berhenti menganalisa. Entahlah. Saya hanya ingin diam ketika memang orang yang saya temui bukan orang yang memang perlu dan ingin saya tanggapi, di luar pekerjaan saya sebagai dokter. Karena saya menikmati impian saya untuk menjadi seorang pemerhati dan menerapkannya pada sebuah tulisan untuk menjadi pelajaran pada kaum yang membutuhkan.

Sepanjang perjalanan Jakarta – Garut yang memakan waktu sekitar lima jam, saya sulit terlelap. Sudah beberapa kali saya berusaha untuk mengistirahatkan mata dan otak, namun tetap saja gagal. Ada apa ini. Biasanya saya kalau sedikit bersandar saja sudah terlelap. Dan wanita disamping saya ini. Kenapa selalu menengok ke arah saya. Menggangu sekali.

Seratus delapan puluh detik kemudian..

Oh okay saya salah. Dia ternyata tidak sedang memperhatikan saya. Ia hanya ingin melihat ruas-ruas jalan dari balik jendela bus. Kebetulan saya yang lebih dulu datang dan menduduki kursi pojok dekat jendela.

Lagi-lagi saya coba untuk mengistirahatkan mata dan kepala namun lagi lagi dan lagi saya gagal. Saya cukup terganggu dan tidak nyaman dengan tengokan wanita ini. Kenapa ia tidak tidur saja. Kalau tahu ada  kejadian seperti ini rasanya saya menyesal meninggalkan si sakti blind fold untuk senjata ampuh tidur lelap tanpa peduli ada yang memperhatikan atau tidak.

Setengah jam kemudian..

Ia tertidur. Baguslah. Saya pun jadi bisa ikut tidur. Namun tunggu. Saya ternyata tetap tidak bisa tidur juga. Saya lupa, ternyata tadi sore sebelum ke terminal saya sempat mampir ke kedai kopi untuk minum espresso. Baiklah. Ini murni kesalahan saya. Bukan karena wanita ini. Saya jadi merasa bersalah tiba-tiba menyalahkan dia. Ckck. Saya lirik wanita ini. Hmm, tampak cukup lumayan untuk mendapat pujian. Tapi mungkin dari lelaki yang pandai bermain kata, bukan yang kaku seperti saya.

Satu jam kemudian.

Bus ini melipir melipir sejenak untuk menambah bahan bakar yang hampir habis. Saya pun berpamit sejenak untuk ke toilet. Begitu pula dengan wanita ini. Ia lebih dahulu menghambur ke toilet karena sejak tadi saya perhatikan hobinya adalah minum air putih sebelum ia terlelap tidur.

Tak sengaja saya perhatikan caranya berjalan. Tampaknya ia cukup paham tentang manner dan etika berjalan sehingga elok dipandang oleh kaum lelaki normal. Bagi saya ia cukup. Cukup enak dipandang dan cukup dari segi ukuran hehe.

Ketika kembali masuk ke dalam bus, ia menggendong dua botol air putih ukuran 1,5liter yang memenuhi pangkuan tangannya yang berlengan kecil. Aku menggeleng pelan. Wanita yang saya rasa berpendidikan baik. Karena hobinya pun cukup baik, minum air putih. Kebanyakan dari beberapa rekan wanita yang saya ketahui, selain hobinya makan snacks atau yang manis, hobinya adalah makan pedas. Namun wanita ini menarik, hobinya minum air putih.

Bus kembali melanjutkan perjalanan. Saya pun kembali dalam lamunan. Sesekali mengecek sosial media untuk membaca update dari rekan-rekan saya. Namun baterai ponsel saya lemah. Ketika mencari alat untuk penambah daya baterai ponsel, ternyata benda itu tertinggal di jok mobil. Saya lupa memasukkannya lagi di tas. Ah! Sudahlah. Memang Tuhan lebih menginginkan hari ini untuk berbincang saja dengan diri sendiri dan Dia tanpa perlu di tambahi dengan bumbu-bumbu lain.

Lagi-lagi wanita ini berulah. Kakinya tak berhenti bergerak. Saya lirik ia lagi, rupanya ia sedang menikmati musik okestra yang berirama cukup beat. Saya sempat melirik video yang ia sedang putar di alat pemutar lagu miliknya.

“Bocah ababil” batinku sedikit kesal dengan ulahnya yang tak bisa berhenti mengguncang-guncangkan kaki sehingga mempengaruhi mood saya yang sedang mengintrospeksi diri.

“Kenapa pak?” Tanya-nya polos pada saya

“What? Bapak? Setua itu kah tampang saya?” Sahut batin saya tak terima namun saya hanya meliriknya. Tidak berkata apapun. Tak penting menanggapi nanti malah jadi panjang. Saya malas berbincang. Eh tapi tunggu. Kenapa suaranya tampak tak asing di telinga ya?

Saya kembali meliriknya. Apakah ia salah seorang dari teman kecil atau sekolah saya dulu? Tapi sepertinya saya tidak pernah mengenal garis wajah wanita ini.

Ia pun balik menatap saya aneh dan berkata,

“Ada apa ya?”

“Nope. Sorry.” Jawab saya seadanya. Namun entah mengapa rasanya saya kenal suara itu. Seperti suara hmmm.. Siapa yaa. Hmm.. Nah! Ingat. Seperti suara ibu. Ya. Suara ibu. Nada suara alto namun berkarakter. Yaa. Mirip sekali.

“Pak, maaf ya. Mungkin mau bertukar posisi? Jadinya bapak engga keganggu kalau saya lagi nengok-nengok terus ke arah jendela.” Ujarnya membuka pembicaraan

Ternyata ia menyadari kegusaranku sejak tadi. Baiklah. Tawaran yang baik.

Seolah berpikir sejenak, “Boleh” jawabku singkat padat jelas

Usai kami bertukar posisi, saya merasa lebih pas. Saya jadi bisa membaca buku karena mendapat cukup cahaya lampu yang bisa saya manfaatkan untuk membaca. Sementara wanita ini lagi-lagi tertidur. Sepertinya tidur dan minum air putih adalah hobinya.

Lalu..

“Jeduuk” sebuah suara benturan lumayan keras terdengar dari arah kiri. Suara terbenturnya kepala wanita ini dengan kaca jendela disampingnya. Saya tersenyum seolah sedikit terhibur dengan aksi ini. Beberapa orang disekitar kursi penumpang yang tak jauh dari kami pun menyadari suara itu. Namun tidak bagi si pemilik kepala. Ia tetap saja tertidur.

Hati kecil saya seolah memaksa untuk menjaganya. Sepertinya ia sangat mengantuk sehingga tak sadar kalau tadi terbentur jendela dengan suara yang cukup kencang.

Saya ulurkan lengan kiri untuk mencegah kepalanya terbentur jendela untuk kesekian kalinya. Saya tak tega pada wanita yang suaranya mirip ibu saya ini. Semoga ia tak berpikir aneh-aneh dengan niat baik saya ini.

5 menit kemudian..

Ia tersadar dengan kebaikan saya.

“Waduh. Makasih banyak pak. Maaf ya, jadi nyusahin”

“Ok”

Ia tersenyum. Dan cukup terlihat menarik.

“Suaramu mirip suara ibu saya yang sudah wafat”

“Oh. Hehe. Harus komentar gimana ya pak baiknya? Hehe”

“Gak perlu hehe. Thank you,”

“Hmm.. Mau saya bantu bacain sesuatu pak? Biar bisa direkam terus didengerin kalau lagi kangen sama ibunya?”

“Hmm? Proaktif sekali” ujar saya membatin. Dua belas tahun di tinggal ibu, rasanya ide untuk merekam suara yang mirip ibu adalah ide yang cukup menarik.

Saya tersenyum. “Ide menarik. Mau bacain apa?”

Wajahnya tampak berpikir keras dan tak lama menemburatkan senyuman penuh ide gemilang. Lalu ia meminta alamat email saya. Entah apa maksudnya, namun saya enggan berpikir lebih lanjut. Tak penting.

***

Esok Pagi..

Akhirnya saya sampai di Garut. Ketika menyadari bahwa wanita tadi sudah tak ada di kursinya, kenapa rasanya hati saya seolah ingin bertanya. Namun segera saya tepis karena ia mungkin hanya wanita figuran yang sengaja dihadirkan Tuhan untuk membuat saya tersenyum sejenak dari kepenatan.

Saya telah bertemu dengan Diki. Kawan lama saya yang asli warga Garut. Rasanya mata dan badan ini menanti sekali untuk di istirahatkan dan di luruskan sejenak. Sebelum saya melatihnya kembali dengan bobot badan untuk menjamahi area hingga puncak Gunung Guntur, Garut.

Usai mandi dan bersiap memanjat tebing hari ini, saya meminta izin pada Diki untuk menyedot listrik di warungnya supaya baterai ponsel saya yang telah tewas sejak di perjalanan bisa dipenuhi sebelum kami pergi mendaki. Bukan karena ingin update ke social media seperti biasanya orang-orang metropolitan namun saya hanya ingin mengabadikan banyak hal di hari ini.

Tingg..

Suara notifikasi email masuk mengudara di telinga. Saya tak terlalu mempedulikan suara itu. Bagi saya semua akan saya baca dan balas usai quality time dengan semesta dan Pencipta ini tiba.

Inbox : SzofiaArdhi@gmail.com

Saya tak pedulikan email dari alamat email yang sangat baru saya kenal itu.

“Akan saya baca kalau sudah sampai di puncak saja. Supaya tak menggangu konsentasi mendaki” ujar saya pada diri sendiri

Berbincang dengan Diki tentang masa kecil kami dulu cukup membuat kepala saya terasa lebih ringan. Beberapa kali saya akhirnya bisa tertawa lepas. Mengenang hal-hal konyol yang telah kami lalui dulu. Hal yang cukup langka saya lakukan beberapa tahun terakhir ini. Keputusan saya tepat untuk menemui Diki. Sosoknya yang santai namun berpengetahuan dalam membuat saya salut padanya. Tak salah jika ia memang pantas terpilih menjadi seorang lurah di kampungnya sendiri.

Semesta.. Maafkan saya yang sering tak mempedulikan keindahanmu. Dan Tuhan. Ampuni saya karena terlalu sibuk melupakan sakit sehingga lupa bahwa ternyata rasa sakitpun merupakan rahmat dari Mu. Rahmat untuk tetap bisa bersyukur ketika sedang dalam keadaan bahagia sehingga tidak ikut mendayu dalam kesenangan yang sejatinya bisa melumpuhkan hati.

“Seandainya saya bisa membawa isteri kesini. Suhu dan udara disini sangat baik untuk memprogram anak yang banyak. Haha.” Ujar saya pada semesta. Lagi-lagi pikiran laki-laki sejati tentang itu datang menggangu.

“Carinya jangan sambil ngeliat Lik. Lama dapetnya. Elo kan apa-apa kebanyakan mikir dari pada nindaknya haha”

“Sial. Gak gitu lah. Lo kan tau saya orangnya gak mau salah apalagi gagal”

“Setau gue, gagal sama sukses itu sepaket kali Lik. Sama kayak baik dan buruk. Sama juga kayak kanan dan kiri, atas dan bawah. Semuanya berjalan beriringan sesuai perhitungan dan kasih sayang Tuhan. Mana bisa semuanya mulus dan baik. Hambar jadinya. Nih kayak elo sekarang nih. Kayak sayur yang ketakutan sendiri mau jadi asin, asem atau pedes. Hasilnya malah ga ada rasanya apa-apa. Mendidih doang airnya, banyak doang isi sayurnya, keren dan mahal doang panci yang ngerebus juga kompornya, tapi rasa sayurnya apa? Rasa air, alias gak ada rasanya. Ckck Malik.. Malik.” Jelas Diki panjang lebar

Saya hanya menyunggingkan senyuman tipis pada penjelasannya. Ya, mungkin benar adanya seperti itu pilihan hidup saya selama ini. Terlalu takut.

“Berarti elo perlu punya pendamping yang lebih proaktif dan punya inisiatif tinggi Lik. Biar idup elo ada warna sama rasanya. Haha. Tua banget ya gue. Tapi yaa kira-kira gitu lah saran terjitu gue sebagai temen”

“Mungkin.”

“Haha. Mungkin doang lagi nyautnya. Ya bener lah. Yang Paling bener itu, dibanding saran-saran yang tadi. Haha”

Mulut ini memang tampak bisu, namun hati dan pikiran ini tidak. Saya memang diam, tapi bukan berarti saya berhenti mencari.

“Dokter kan biasanya banyak Lik yang cakep. Ga ada yang disenengin?”

Saya menggeleng. Sambil tetap melanjutkan mendaki dengan tenang.

“Suster? Pramugari? Pasien?”

Aku hanya menaik turunkan pundak satu kali.

“Karena gue kenal elo, jadinya gue biarin aja elo ngedapatin sendiri yang sesuai sama harapan lo. Karena pasti Cuma bakal nguras waktu dan tenaga gue aja kalau gue ngebantuin elo yang maunya sosok bidadari. HAHA”

“Ga bidadari juga sih haha..” sangkal saya dan kembali termenung.

***

Tak terasa matahari akan segera berganti shift dengan bulan. Hari mulai beranjak gelap. Dan kami telah sampai di puncak Gunung Guntur sejak setengah jam yang lalu. Usai mendirikan tenda dan memasak air untuk minum kopi dan membuat kudapan makan malam, saya memandang langit dengan lebih dalam dan leluasa. Diki cukup paham saya dengan baik. ia mengizinkan saya untuk menyelami diri saya sendiri dengan berdialog bersama hati kecil, alam semesta juga sang Pencipta. Sambil sesekali menyeruput kopi, ia asik memotret langit semesta dengan beragam alat tempur yang ia bawa. Berbeda dengan saya, yang hanya membawa kegundahan hati pada alam semesta.

Sejujurnya saya paham bahwa saya memang tidak pernah pandai memilih jika urusannya adalah romansa dengan lawan jenis. Tapi lagi-lagi saya tak ingin salah langkah dan menyesal. Seolah saya hanya mengintip dari balik gorden jendela tebal untuk mengintai sosok mana yang mendekati sosok ibu saya. Ya. Saya hanya ingin mencari sosok yang seperti ibu saya. Yang banyak bicara tapi konteks dan tujuannya jelas dan bermanfaat. Karena saya sangat tak suka keramaian dan kebisingan tapi tanpa makna.

Rindu pada ibu mengingatkan saya dengan wanita yang kejeduk tadi. Nada suaranya sungguh mirip ibu saya. Entahlah bagaimana bisa.

Saya menepati janji saya untuk membuka dan membalas beragam email dan juga pesan singkat yang masuk di ponsel saya usai sampai di puncak. Dan alamat email baru ini sungguh menggelitik untuk dibuka, Dan isinya:

Hari ini adalah hari kamis. Silahkan mengharap mendalam dipenghujung hari, karena di waktu ashar hingga penghabis hari di hari kamis telah terhitung sama dengan keberkahan di hari jumat. Mengharaplah dengan niat terbaik, jangan lupa istighfar dulu sebelum mengucap harapan pada sang Pemilik dan Pewujud semua harapan. Aku punya untaian kalimat doa untuk membantu bapak. Sebagai tanda balas budi karena tadi kepala saya di bantu halau supaya tidak kejeduk lagi.

:)

Semoga semesta dapat membantu mengamini sehingga Sang Pencipta tergelitik untuk mengabulkan harapan sang Peminta. Oh iya, satu lagi.. ketika rindu pada ibu, sebaiknya jangan hanya disimpan dan menjadi terbelenggu. Seujung Al-fatihah untuk ibu adalah yang beliau tunggu. Karena sumber amal terakhir yang membantu adalah doa dan kebaikan dari anak sholeh yang mendoakannya selalu.

Salam Kenal

Zsofia A.

Seolah aku tak percaya dengan kalimatnya. Wanita yang terkesan masih ingusan ini mampu membuat kalimat sebagus ini. Dan, ah!! saya benar-benar merasa tertampar. Ketika saya ingat ibu namun yang saya lakukan hanya menggerutu. Ibu, ayah dan kak Nila. Maaf yaa. Saya seolah sungguh lupa dengan wawasan dan pelajaran saat mengaji di TPA dulu. Ternyata wanita ini juga mengirim sebuah voice note. Saya ragu untuk memutarnya. Jangan-jangan dia akan berceramah. Hmm.. namun isi ceramah apa yang hanya berdurasi empat menit? Seperti kultum kah? Sedalam apa dia berani berceramah pada orang yang baru saja ia kenal? Hmm.. tangan ini rasanya gataluntuk menekan tombol play.

Terdengar suaranya yang sedang melantunkan sebuah alunan kalimat dalam bahasa Arab yang fasih. Pelafalan huruf Arab yang sangat sulit bagi saya terdengar idzhar dan mudah bagi dirinya. Saya tak paham dia sedang melantunkan apa tapi saya hanya ingin menikmati suranya yang mirip ibu juga kejelasan pelafalan bahasa Arab yang sungguh membuat telinga saya ketagihan dibuatnya.

“Wanita baik yang unik. Kita lihat, seberapa mampu ia membuat saya tertarik,” ucap saya pelan.

“Suara siapa ngaji tuh Lik? Keren.”

“Belum tau. Masih perlu diselidiki”

“Lah? Bisa gitu”

“Makanya..”

***

“Pakai ini?” tanya saya tak yakin pada pilihan isteri

“Yapp. Kenapa?” ujarnya sambil masih sibuk mewarnai bibirnya dengan lipstick

“Aku kan mau kerja, kenapa jadi lebih mirip badut ancol dengan jas warna warni berpolkadot gini”

“Hehehe, honeeyy. itu bukan kayak badut ancol. Cuma sedikit aku miripin badut sulap aja hahaha”

“Apa tujuannya?”

“Tujuannya? Yang kamu mau bujuk untuk operasi kali ini kan anak kecil sayaangg. Dia gak sama dengan pasien-pasienmu yang lain. Jangan buat dia takut sama ke kakuan kamu. Kemarin aku perhatiin pilihan kalimatmu juga banyak yang gak pas untuk anak sekecil dia”

“Untuk apa menspesialkan satu orang, kalau aku bekerja sebagai spesialis untuk banyak orang”

“Masalahnya bukan pada jumlah, tapi kemampuan kamu dalam mempertahankan kualitas ke tiap orang yang karakter dan kerangka berpikirnya beda-beda. Kamu ga bisa terus-terusan nyamain cara kamu berinteraksi dari satu orang ke orang lain”

“Lho, kan memang caraku berkomunikasi dan berinteraksi memang sudah begini dari dulunya.”

“Engga kok. Yang aku pahami selama ini, sebenarnya kamu orang yang cukup lembut. Hanya saja terlalu takut untuk nunjukkin aslinya kamu ke orang lain.”

“Kalau anak kamu yang sakit parah, terus kamu tahu dokter yang nanganin dia gak bisa memperlakukan anakmu dengan baik seperti yang kamu harapkan? Kamu terima?”

“Bersikaplah seperti kamu ingin disikapi, sayang”

“Lho, memang selama ini sikapku gak baik?”

“Sudah baik, hanya saja kadar keramahannya yang perlu ditambah. Apalagi ke anak kecil dan orang lansia. Anggap mereka seperti keluargamu sendiri aja. Biar enteng”

Aku terdiam. “Aku lupa rasanya”

“Nah! justru karena kamu lupa rasanya, jadi kamu perlu diingatkan untuk paham lagi. Dimulai dari ramah aja. Tuhan senang kok sama orang yang ramah. Ramah yaa, bukan kecentilan”

“Takut ah. Nanti dibilang agresif lagi”

“Haha. Sok tau deh. Yang berhak nilai itu Tuhan, orang lain Cuma boleh dan bisa komentar, selebihnya balik lagi kehatimu. Selama tujuannya baik dengan cara yang baik, hasilnya gak pernah jauh dari itu kok. Kalaupun misalnya hasil akhirnya beda, mungkin ada waktu yang lebih baik lagi nantinya.

“Aku gak suka diliatin orang terlalu lama. Apalagi sama ibu-ibu kemarin itu. Kamu liatkan yang dandannya heboh banget itu. Aku diliatinnya kayak begitu banget. Aku gak nyaman dan jadi malas nanggapinnya”

“Mungkin dia seneng sama tampang nyebelin kamu. Makanya diliatin” ujarnya polos

“Yaa what ever lah yaa, tapi hubungannya apa dengan jas badut ancol ini?”

“Kamu pakai ini cuma saat buat bujuk Nanda supaya dia mau di kemoterapi. Dia pasti seneng. Karena dia selalu tertarik sama orang yang pakai baju warna-warni. Aku beberapa kali ngobrol sama dia, katanya dia kamu ganteng tapi serem hehe. Cobalah untuk bersikap lebih manis sama dia. Gak dosa kok. Kan anak kecil. Selebihnya aku siapin jas kamu yang biasa kok di mobil. Entah nanti hasilnya apa, tapi coba dulu deh kamu bujuk dia. Caranya seolah-olah kamu bujuk anak kamu nanti untuk mau makan makanan buatan kamu yang asin. Hehe. Mau ya?”

“Sepertinya jobdesc dokter tidak perlu sedalam itu deh. Jadi buat apa ya?” sarkastikku manis lancip.

“Kamu katanya mau punya anak. Gimana mau bisa punya anak kalau kamu aja gak tau gimana caranya memperlakukan dan menyenangkan anak kecil yang lain. Belajar dulu, nanti pasti dikasih kepercayaan sama Tuhan untuk punya sendiri. Ya??”

“Tapi kenapa caranya harus seperti badut begini?” ujarku masih tak terima.

Isteriku tersenyum sambil menatapku dalam.

“Nurut ya..” pintanya lembut sambil mengusap-usap punggungku yang tidak sakit

Aku terdiam. Ia terlalu pandai untuk membuatku tak berkutik. “Zsofia..”

“Ya..”

“Semoga aku selalu dipercaya Tuhan untuk selalu bersamamu sampai akhir hayat” ucapku serius

“Insya Allah..” tambahnya dengan senyuman

“Iya, Insya Allah I will always love you eternally” ujarku sambil mengecup dahinya dan berujar dalam hati pada Tuhan

“Terima kasih Tuhan. Terima kasih untuk keajaiban-Mu ini. Aku tak menyesal menyedekahkan rumah hasil jerih payahku bekerja di Jerman dulu untuk di dirikan TPA jika kini Engkau ganti dengan Zsofia disisiku. Wanita hobi minum air putih yang kutemui lima bulan lalu. Ia bahkan lebih menyukai rumah sederhana dan lebih menyukai diberikan tanaman dari pada perhiasan. Terima kasih Tuhan. Terima kasih atas kesempatan barter luar biasa ini. Ini lebih indah dari bayanganku selama ini. Ia sudah cukup seperti cerminan harapanku, bahkan lebih. Meskipun tak sempurna, namun aku ikut dengan pendapatnya bahwa:

Ketidak sempurnaan itu akan menjadi sempurna,

jika sudah bertemu dengan penyempurnanya.

Ia pun membantuku bagaimana aku lebih layak dalam bersikap pada orang lain. Pengetahuan dan wawasan yang selalu aku hindari sejak dahulu karena aku terlalu tidak mau peduli dengan hal itu. Terima kasih Tuhan, sungguh terima kasih.

The End.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *