Embun pagi tengah membasahi rumput dan tembok dedaunan dari sebuah rumah yang didominasi ornamen kayu yang sangat asri.

Pukul 4.50 pagi. Malik sudah terbangun dari istirahat pendeknya. Rutinitas hariannya di pagi hari adalah membereskan buku-bukunya yang berantakan, menyapu & ngepel lantai, menyetrika baju dan lain sebagainya. Kompleksitas urusannya selama tujuh tahun terakhir memang hanya di sekitaran rumah sakit, dapur, kamar tidur, rumah sakit, dapur, kamar tidur. Begitu terus saja hingga akhirnya tak ayal ia sering kali  dilanda kejenuhan akut karena sudah sekalian lama ia pendam berbagai keinginan dan harapannya dengan sengaja.

Namun ada yang berbeda di pagi hari ini, usai mendapat izin cuti selama lima hari dari tiga rumah sakit yang selama ini menaunginya bekerja, untuk pertama kalinya Malik bisa tersenyum lebar saat mengawali hari.

Pagi itu usai shalat subuh, seperti biasanya ia membuat sarapan andalannya, yakni secangkir teh manis dan telur dadar yang ia buat dari lima butir telur juga tak lupa ia sambil membaca berita harian terkini melalui tablet elektroniknya.

.

Duuk.. dukk… Duukk..

“Piihh.. Piiihh” Terdengar ketukan pintu dan suara Pak Iskandar dari balik pintu kamar.

“Yaaa..”

“Nguuunn.. Oaattt.. Hiiaangg” Ujar Pak Iskandar yang ingin mengatakan (Bangun. Sholat. Sudah siang.”

“Iyaaa..” Jawab Zsofia dengan suara parau.

Lima menit kemudian.

“Piiiihhh.. Oaaattt” Ujar Pak Iskandar yang kembali membangunkan Zsofia lagi.

“Iyaaa.” Kali ini Zsofia menjawab dengan wajah sebal karena merasa tidurnya diganggu.

Duk.. duukk.. Duukk.. Duukk..duukk.. Duukk.. Duukk.. Duuk.. duukk.. Suara ketukan pintu yang tak kunjung usai adalah cara ampuh Pak Iskandar untuk mengganggu tidut anak terakhirnya yang memang paling susah untuk bangun di pagi hari. 

“Iya papaaah. Ahh elaahh. Nyebelin banget sih..” Gerutu Zsofia dengan wajah semrawut.

“Ooaaatt!!!” Ujar Pak Iskandar dengan nada lebih tinggi.

“Iyaaa.”

Zsofia pun terpaksa menurut dengan wajah cemberut. Matanya masih sangat berat karena ia baru tidur saja tidur pukul empat pagi, karena banyak pekerjaan di kantor yang harus ia selesaikan sebelum ia pergi untuk mengurus urusan yang lainnya.

Usai sholat, Zsofia keluar kamar dan memaksakan matanya untuk bisa terjaga sebentar saja demi melihat kondisi papanya yang kini tengah melihat siaran berita dari televisi.

“Papa mau teh?” Tanya Zsofia dari mulut pintu kamarnya.

“Mau..” Jawab Pak Iskandar dengan lekas. 

Zsofia pun menutup pintu kamarnya dan berjalan ke arah dapur.

Pak Iskandar bukan orang tipe orang tua yang meminta dibuatkan apa-apa pada anaknya. Ia tahu betul bagaimana ritme acak anak terakhirnya ini yang harus membagi empat pikiran dan badannya yang kurus untuk pekerjaan di kantor, membantu dirinya mengurus toko yang sudah tak begitu bisa ia pegang pasca stroke sekaligus menjadi suster bagi dirinya pasca sang istri meninggal dunia dua tahun silam.

Lima menit kemudian. Zsofia datang dengan secangkir teh dan roti isi coklat.

“Papa, mau sekalian mandi? Zsofia masakin air panas ya. Nanti papa tinggal bawa ke kamar.”

“Ya..” Jawab Pak Iskandar sambil matanya masih tetap tertuju pada berita di televisi

.

Selesai sarapan, dengan sigap Malik mengambil beberapa perlengkapannya untuk mendaki gunung, lalu mengambil baju-baju yang hendak ia bawa, memuatnya dengan seringkas mungkin, lalu merendam baju kotor, mencuci semua gelas dan piring yang menumpuk setelah ia memasak sarapan sekaligus untuk bekalnya diperjalanan.

Usai mencuci pakaian dan membereskan perlengkapan yang akan ia bawa selama berlibur ke rumah Diki di Garut, Malik pun kembali harus memikirkan hal lainnya, yakni memastikan tempat penitipan hewan mana yang akan ia percaya untuk bisa menjaga dan merawat hewan-hewan kesayangannya yang cukup banyak, yakni, sembilan ekor kucing persia, tiga ekor anjing jenis labrador, golden & husky serta lima ekor burung murai. Karena ia benci sekali bila hewan peliharaannya malah jadi kutuan jika dititipkan di tempat yang tidak tepat. Selesai mencari, menemukan dan memastikan, Malik pun mengantarkan hewan-hewan kesayangannya ke tempat penitipan hewan.

Pukul 10.22 Malik sudah siap untuk berangkat. Usai janjian dengan Pak Somad lewat sms ia pun kembali mengecek segala kabel-kabel yang harus dalam keadaan tidak terhubung dengan arus listrik lalu, setelah semua aman ia segera menghampiri Pak Somad yang sudah menantinya di depan gerbang. 

Pada akhirnya dengan sangat terpaksa ia harus rela memberikan kunci gerbang rumahnya kepada Pak Somad, tukang kebun tetangga sebelah rumahnya untuk sesekali mengecek keadaan kebun tanaman hidroponik yang ia tumbuh kembangkan sendiri di pekarangan rumahnya.

Usai Pak Somad pamit, Malik pun mengunci pintu gerbang. Lalu mencari tukang ojek pangkalan agar bisa mengantarkan ke terminal bus, namun karena pangkalan ojek sedang kosong ia pun memutuskan untuk mampir sebentar ke sebuah kedai kopi tak jauh dari pangkalan ojek dekat rumahnya.

Wajahnya tampak begitu fresh dan santai hari ini dengan mengenakan setelan kaos polos hitam dan celana jeans sepanjang lutut berwarna hijau tua. 

Sesampainya di kedai, ia memesan secangkir espresso untuk ia nikmati sejenak sebelum ia pergi ke terminal bus. Sambil menikmati kopi, Malik pun membuka buku catatan kesayangannya yang berbalut kulit sapi yang juga berwarna hitam.

“Hai Mas! Mau jalan-jalan nih kayaknya.” Sapa seorang pria yang datang dari arah punggung Malik.

“Eh, iya nih Ndi. Mau refresh dulu sebentar. Sumpek juga kerja terus.” Jawab Malik pada Andi, sang pemilik kedai kopi yang lumayan terkenal di kawasan rumah Malik.

“Wahh mantap-mantap. Iyalah Mas, harus balance. Kerja juga refreshing juga. Semoga entar pulang-pulang langsung ketemu jodoh ya. Haha!”

“Haha. Bisa aja. Mau meeting nih? Rapih amat.”

“Bukan Mas, saya Andi, bukan rapih ahmad.”

“Hah? Kenapa jadi rapih ahmad??

“Aduuhh, susah deh becandain dokter saraf. Ga pernah nonton tv nih pasti. Haha.” Goda  Andi sambil belaga menepuk keningnya sendiri.

“Hahaha. Gak punya tivi sih lebih tepatnya..”

“Hahaha. Bisa aja.. Iya nih Mas. Mau ada interview dikit dari radio sama stasiun tv.”

“Keren, pengusaha sukses.”

“Haha, apaan. Masih gini-gini aja saya sebenernya Mas, cuma media aja kadang terlalu berlebihan kalo bikin berita. Jalan dulu ya Mas Malik.” Pamit Andi sambil menepuk bahu Malik dan berlalu.

“Okay.” Jawab Malik sambil kembali sibuk dengan buku catatan kecilnya tersebut.

***

Malik tiba di terminal bus dengan menggunakan ojek pangkalan.

“Yah, mo’on maap pak. Saya belonan ada kembalian nih, baru bangat narik soalnya.” Ujar sang pengemudi ojek sambil mengembalikan uang seratus ribuan kepada Malik.

“Yaudah dipake aja pak kembaliannya.”

“Hah? Yang bener pak? Banyak bangat inih kembaliannya.” Ujar lagi pengemudi ojek dengan logat khas Betawi yang begitu kental.

“Iya, jarang-jarang kok. Mumpung saya lagi baik.”

“Alhamdulillah.. Makasih banyak yak Pak Haji. Saya doain dah semoga anak-anak dan istri bapak sehat semuah. Lancar rejeki.. Banyak anak, malah kalo bisa sih banyak istri. Hehehe.”

“Ssst. Udah-udah. Doanya cukup sampe saya bisa ketemu sama jodoh aja. Gak usah banyak-banyak.”

“Laah, bapak belom kawin, yak?? Maap yak pak, saya kagak tau. Aamiin dah. Semoga cepetan ketemu yak, Pak.”

“Ya. Aamiin.” Jawab Malik sambil berlalu meninggalkan pengemudi ojek tersebut dan beralih untuk mencari rute bus yang sesuai dengan tujuannya ke rumah Dicky.

Saat menapaki area dalam bus, Malik kembali tersenyum tipis. Karena masih banyak sekali bangku kosong yang tersisa, sehingga ia bisa lebih leluasa memilih kursi mana yang ia ingini.

Usai meletakkan ransel di tempat penyimpanan barang, Malik pun duduk dengan rasa puas. Lalu, tak lama kemudian bus pun mulai meninggalkan pelataran terminal.

Malik sudah mulai sibuk dengan buku-buku komik yang sangat ia persiapkan untuk membunuh kejenuhannya selama diperjalanan.

Menit demi menit pun berlalu.

Belasan buku-buku komik yang memenuhi ransel kecilnya sudah hampir rampung semua ia baca, hanya tersisa tiga buku komik lagi. Malik pun mulai menyadari perubahan situasi di sekelilingnya saat ini. Dimana semua kursi bus sudah terpenuhi bahkan ada beberapa orang yang terpaksa berdiri. Saking fokusnya Malik saat membaca komik tadi, ia pun sampai baru menyadari bahwa entah sejak kapan ada seorang wanita yang duduk di kursi sebelahnya saat ini. Wanita ninja. Begitu sapaan dari otaknya setiap kali melihat wanita yang mengenakan masker penutup debu di area luar rumah sakit.

Sejenak ia melirik ke arah wanita ninja sedang asik tidur dengan pulas tersebut. Ia pun berniat melakukan hal yang sama, tidur, namun entah mengapa selalu saja ia gagal. Hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk memperhatikan jalanan saja sambil melampiaskan hobi terpendamnya yang lain, melamun.

Lalu tiba-tiba saja..

“Huaaaccchhiimm!!!”

Terdengar suara bersin yang cukup besar sehingga membuat orang-orang yang berada di dalam bis menoleh kearah sumber suara, termasuk Malik yang juga ikut menoleh sejenak ke arah samping kanannya lalu kembali meneruskan lamunannya.

“Huuaaccchhiiimmm!!!”

Kembali Malik terganggu dengan suara bersin tersebut.

“Huuaacchhhiiimm!!”

“Huaaaaaccchiimm!!”

Malik pun kembali menoleh ke samping kanannya.

“Huuaaccchhiiimm!!!” Kali ini bersin tersebut sedikit menyemburatkan gerimis yang cukup terasa di kulit lututnya.

“Kamu ada sinus ya?” Tanya Malik sambil mengelap lututnya yang terkena ‘gerimis’ dari wanita yang sedang sibuk dengan tisu dan ingus di hidungnya ini.

Setelah membuka masker dan sibuk mengeluarkan cukup banyak cairan mukus (ingus) ke dalam tisu, wanita itu pun tampak kaget melihat sosok laki-laki berkaos hitam yang persis duduk di sampingnya saat ini.

“Lho, Dokter Malik?” Ujar wanita yang baru saja bersin-bersin tersebut.

“Siapa ya?”

“Saya anaknya Pak Sofyan Iskandar, dok. Yang waktu itu sempat antar papa saya check up ke RS Budi Raharja.” Ujar wanita yang saat ini sedang mengenakan kacamata berbingkai tebal dengan rambut yang diikat  namun tidak rapih ini.

Malik pun mengingat-ingat seketika dan “Oh, oke.” Ujarnya singkat.

Wanita itu pun tersenyum pada Malik.

“Nama saya Zsofia, dok. Senang ketemu dokter lagi. Lagi mau liburan dok??” Ujar Zsofia dengan nada ramah.

“Sejenis itu.” Jawab Malik dengan nada dan raut wajah dingin lalu kembali pada hobinya tadi, melamun.

Padahal yang sebenarnya terjadi di kepalanya saat ini justeru sangat berbeda dengan apa yang baru saja ia tampilkan pada wanita yang mengaku bernama Zsofia ini.

“Huuuaacchhiimm!!!”

Kembali suara bersin itu mengganggu Malik.

“Kamu bawa obat ga?” Tanya Malik.

“Saya gak minum obat, Dok.” Jawab Zsofia.

“Lho, kenapa?”

“Gak apa-apa.” Jawabnya singkat sambil kembali sibuk dengan tisu yang ada di pangkuannya.

Lima belas menit berlalu.

“Huuuacchhhiimm!!!”

Lagi-lagi suara bersin itu mengudara sambil gerimisnya mampir di kulit lutut dan tangan Malik.

“Duh, kena ya dok. Maaf ya..” Ujar Zsofia yang baru menyadari bahwa gerimis bersinnya sampai di kulit tangan Malik.

It’s okay.” Jawab Malik singkat sambil terus mengontrol ekspresinya saat ini karena jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.

Terlihat Zsofia sedang kebingungan atas sesuatu. Dan Malik pun nampak tak tega membiarkan anak pasiennya seperti itu.

“Saya ada sapu tangan, mau?”

Zsofia nampak ragu untuk menerima tawaran tersebut dari Malik, namun ia bingung harus membuang kemana lagi tumpukan ingus yang sudah amat sangat memenuhi hidungnya saat ini. Karena empat packs tisu yang dibawanya pun sudah habis terpakai semua.

“Hmm.. gak apa-apa nih Dok?” Tanya Zsofia dengan mimik wajah sungkan.

“Kalau misalnya ada apa-apa, emangnya kamu mau buang ingus itu dimana?” Tanya Malik dengan nada sedikit ketus.

Zsofia pun akhirnya terpaksa menerima sapu tangan hitam milik Malik tersebut.

Setengah jam berlalu.

Bus pun berhenti di sebuah pom bensin yang lengkap dengan keberadaan toilet, musholla sampai rentetan tempat makan dan jajanan.

Sementara Zsofia menjadi orang pertama yang meluncur keluar bus dan berjalan cepat ke arah toilet wanita, Malik justeru sedang menikmati pemandangan luar jendela yang ada di hadapannya saat ini. Ia pun tersenyum simpul sambil menuliskan beberapa bait kalimat di buku kecil hitam kesayangannya.

Lalu, tiba-tiba saja hujan turun meski awan terlihat tidak begitu kelam.

Malik yang notabene adalah seorang pembenci hujan, langsung berubah haluan moodnya, menjadi sebal. Beberapa menit berselang, bayangan Zsofia kembali hadir sebagai pemandangan yang begitu ditunggu Malik dari balik jendela kaca. Ia terlihat berjalan untuk kembali ke dalam bus. Malik pun menanti sosok itu kembali duduk di sampingnya.

“Mau teh anget, Dok?” Tanya Zsofia sambil mengulurkan gelas karton dari tangan kanannya.

“Buat saya?”

Zsofia mengangguk dengan senyum kecil.

“Sebagai apa?”

“Hmm, mungkin bisa jadi barter sama sapu tangan tadi. Meski mungkin ga sebanding juga palingan kalo dari sisi harga.” Jawab Zsofia dengan ramah.

Thanks.” Malik pun meraih gelas karton coklat dari tangan kanan Zsofia.

Zsofia pun mengangguk pelan.

“Jadi kenapa kamu ga minum obat?” Tanya Malik mengulang pertanyaannya tadi.

“Haha.. Takut pekerjaannya terancam ya Dok, kalau misalnya banyak orang yang pikirannya kayak saya. Haha..” Goda Zsofia.

Malik mendengus pelan. “Gak juga.. Saya pengen tau aja, kenapanya.”

“Yaa mungkin sesederhana kalo saya gak mau terlalu manja dan dikit-dikit menggantungkan diri sama obat aja Dok.”

“Hmm…” Malik tampak berpikir.

“Kalau masih ada cara lain yang bisa digunain, ya saya pakai cara lain dulu aja. Obat itu jadi opsi paling terakhir.” Jawab Zsofia lagi sambil menyeruput teh hangatnya.

“Kamu alergi ke dokter juga dong?”

“Bukan alergi juga sih sebenernya. Malah saya justru butuh analisis dokter kalo misal saya lagi kenapa-kenapa. Tapi setelah itu saya tipikal yang lebih mau cari tau sendiri dulu dimana biang masalahnya, supaya bisa ngurangin sakitnya ya lewat pemahaman akar masalah itu. Kalau obat kan fungsinya cuma meredakan sementara. Bukan menghilangkan dari akar-akarnya.”

“Itu betul, cuma memang ga banyak aja orang yang mau repot-repot cari tau akar masalahnya. Biasanya ya pasien asal terima analisis dokter aja. Padahal ada kemungkinan dokter salah analisis dan diagnosis juga ada.”

“Bukan ada doang sih Dok, tapi banyak. Apalagi jaman sekarang buat jadi dokter itu kayaknya lebih gampang gitu dari jaman dulu. Modal banyak uang dan punya koneksi, bisa deh jadi dokter. Padahal menurutku, peran dan tanggung jawabnya dokter itu berat banget dan ga bisa seenaknya. Karena setiap tindak tanduknya kan pasti berhubungan langsung sama nyawa manusia.”

“Ya begitulah. Makanya kasus malpraktek di jaman sekarang jauh lebih banyak daripada jaman dulu. Kamu tau, akarnya dari mana? Menurut saya sih dari MALES. Pasiennya males nyari info dan cari second opinion dari dokter lain, dokternya juga males buat upgrade ilmu. Semuanya tenggelam sama kenyamanan. Yang dokter nyaman ilmunya begitu-begitu aja, yang pasien juga nyaman dan terima-terima aja.”

“Mungkin karena sekolah spesialisnya mahal kali Dok.”

“Gak ada hubungannya. Emang kalau nyari ilmu pintunya cuma lewat sekolah? Kan bisa terus upgrade ilmu lewat teknologi, ebook udah banyak, diskusi sama dokter lain seantero bumi bisa. Ya makanya, saya juga sekarang jadi menilai kayak kamu gini. Anak jaman sekarang saya lihat lebih banyak malesnya. Maunya apa-apa instan, terus cepet kaya. Padahal jadi dokter itu bukan gerbang buat jadi kaya raya, apalagi cuma buat gaya, salah banget itu. Peran dokter itu sama kayak guru, sama-sama pengabdian.” Terang Malik

“Idealnya gitu Dok, tapi masalahnya ‘kan jaman sekarang udah banyak makna yang bergeser. Jadi guru, dokter, pengacara, kelakuannya sekarang hampir mirip-mirip semuanya. Mengabdinya sekarang itu justeru bukan sama pendidikan, kesehatan dan hukum kemanusiaan lagi, tapi justru malah sama siapa yang bisa bayar mereka lebih mahal. Ga gak sih?? Haha.” Imbuh Zsofia

True. Yaa itulah, karena dimana pun, yang namanya oknum memang selalu ada aja. Di lapisan pekerjaan mana pun. Bahkan sekarang sudah sampai di ranah agama juga. Kacau.” Sahut Malik

“Sejarah kan memang tercipta untuk terus berulang kalau ga ada yang berusaha memperbaiki, Dok. Dari jaman Nabi sampai hari ini, politisasi agama itu selalu jadi isu yang paling sexy buat dijadikan bahan bakar perselisihan.”

“Ya, itu betul sekali.” Sambut Malik

“Menurutku kita justeru harus belajar dari kesalahan dan kegagalan masa lalu, supaya ga terus berulang. Bukannya malah dihindarin dan gak boleh dipelajarin. Yang jadi lucunya itu bagiku, maunya mengulang masa keemasan tapi  tutup mata sama kegagalannya, kan aneh ya. Logikanya gak jalan aja menurutku, kalau seandainya masa keemasan itu jauh lebih kuat dari kegagalannya, ya gak mungkin juga semua itu selesai dan ganti ke produk lain.”

“Yaa. Makanya tadi kan saya bilang, akar problemnya itu MALES. Males menggerakkan diri sendiri buat ngertinya lewat akalnya sendiri. Bukan dari suapan orang lain. Gak ada yang lain dan ga bukan deh. Cuma itu penyakit kronis yang bikin Indonesia masih terus-terusan jadi negara stagnan kayak gini. Ya karena kualitas SDM begini-begini aja. Mindset-nya itu lho, astaga.”

“Masih mental inlander ya, Haha.”

Exactly. Kayaknya itu sih kata yang paling tepat. Haha.”

Zsofia tersenyum mendengar dokter yang kemarin ia nilai sangat pelit bicara tiba-tiba saat ini banyak sekali berbicara.

“Kenapa? Kok kamu senyum-senyum?”

“Emang kenapa, Dok?”

“Yaa gak apa-apa sih.”

“Yaudah, gak ada apa-apa ‘kan berarti?”

Malik pun jadi ikut tersenyum dibuatnya.

“Dok,”

“Ya..”

“Saya boleh tidur lagi?”

“Yaa, silahkan. Kenapa ijin dulu sama saya?”

“Yaa maksudnya biar ga diajak ngomong lagi aja. Hehe.”

“Oh, okay. Sorry.”

“Makasih..”

“Hmm.. sebentar.”

“Kenapa dok?”

“Kalau saya lagi ga pake jas putih, gausahlah panggil saya Dokter.”

“Haha.. Ooh gitu. Jadi saya panggilnya siapa?”

“Bebas.”

“Bebas??”

“Iya, bebas. Kenapa?”

Zsofia menggaruk keningnya yang tak gatal.

“Ya agak aneh aja sih buat bikin penggalannya. Bebas. Beb-as. Masa gitu??” Canda Zsofia sambil tersenyum kecil.

“Hahahahahaa. Baru nyambung saya. Yaa, maksudnya terserah kamu aja.”

“Oke Pak.”

“Haha.. baik Bu.”

Keduanya pun tertawa kecil.

Menit-menit kemudian bergulir dengan begitu lunglai. Zsofia mengeksekusi ijinnya dengan baik. Ia tidur begitu pulas. Tak nampak gerak-gerik ataupun niatan wanita ini untuk kembali berbincang, nampaknya ia begitu menginginkan istirahat selama perjalanan ini. Malik pun memutuskan untuk membaca buku saja. Beruntung tadi Zsofia sempat meminta untuk bertukar posisi, sehingga ia cukup mendapat sorotan cahaya lampu untuk membaca buku dengan nyaman.

Tak lama kemudian . .

“Jeduuk!”

Sebuah suara benturan yang lumayan keras terdengar dari arah kiri. Ternyata suara terbenturnya kepala Zsofia dengan kaca jendela disampingnya. Saya menahan tawa karena merasa sedikit terhibur atas insiden barusan. 

Beberapa orang disekitar kursi penumpang yang tak jauh dari kursi kami pun menyadari suara itu. Namun tidak bagi si pemilik kepala. Ia tetap saja tertidur nyenyak tanpa terasa sakit sedikitpun. Kepala beton, celetuk Malik dalam hati.

Hati kecil Malik seolah memaksa untuk menjaga wanita yang baru saja di kenalnya ini. Sepertinya ia sangat mengantuk sehingga tak sadar atas apa yang terjadi pada kepalanya. Malik pun berinisiatif untuk mengulurkan lengan kirinya demi mencegah agar kepala Zsofia tidak lagi terjeduk seperti sebelumnya.

Terbersit perasaan tak tega di hati Malik ketika menatap wanita beraroma bayi  yang sedang tertidur pulas ini. Apalagi ternyata ia cukup menyenangkan untuk jadi teman berdiskusi. 

“Semoga ia tidak berpikir aneh-aneh dengan niat baik saya ini. Aamiin”. Ujar batin Malik sambil hati2 menaruh kepala Zsofia di pundaknya.

Senyuman lebar tiba-tiba saja terlukis jelas di wajah Malik. Ia pun lantas menenggelamkan diri pada buku bacaan favoritnya lagi.

Lima belas menit kemudian. Zsofia tersadar dengan suara degupan jantung yang begitu jelas terdengar di telinganya dan juga mencium bau wangi yang tidak pernah ia cium sebelumnya, hingga perlahan ia pun mulai terbangun dan menyadari posisi tidurnya kini, kepala yang bersandar di pundak seseorang.

“Eh, ya ampun, maaf dok. Eh pak.” Ujar Zsofia dengan wajah merasa bersalah. Terlebih ketika ia meyadari bahwa ada “pulau” yang baru saja ia buat dengan air liurnya di kaos Dokter Malik.

No worries.” Jawab Malik singkat.

“Beneran Pak?”

“Iya gak apa-apa. Santai aja.”

Zsofia pun mengutuki dirinya sambil mengalihkan diri dengan meneguk air putih.

“Kepalamu tadi kejeduk kaca jendela. Ga kerasa ya?”

“Masa iya??”

“Iya. Makanya tadi saya cegah supaya ga kejeduk lagi.”

“Owalah. Makasih, sama maaf ya dok.”

“Ya.. lumayan, dapet oleh-oleh ‘pulau buatan’ dari kamu.”

“Yaah, jadi gak enak deh. Udah tadi banyak kena bersin saya, sapu tangan juga kena ingus saya, masa sekarang baju ikutan kena iler saya.” Ujar Zsofia dengan nada dan wajah merasa bersalah namun cengengesan.

“Hahahahaa. Gak apa-apa kok.”

“Sekali lagi, maaf ya Pak.”

“Iya, akan saya maafkan tapi dengan 2 syarat.”

“Apa?”

“Pertama, kamu jangan panggil saya pak, karena saya bukan Pak Guru.”

“Tapi ‘kan Pak Dokter..”

“Ya apapun itu. Saya ga suka.”

“Kedua, saya mau kamu jadi temen saya. Gimana?”

“Hmm, bentar. Saya mikir dulu.”

“Kenapa harus pake mikir?”

“Ya kalo ga mikir dulu, nanti diprotes lagi. Mending dipikirin dulu kan, mau manggil apa.”

“Ooh, okay..”

“Hmm…”

“Susah banget ya?”

“Yaa biar ga salah lagi aja sih.”

“Padahal kan gampang ya, panggil aja nama saya langsung.”

“Masalahnya saya gak bisa kalo kayak gitu.”

“Kenapa?”

“Yaa ‘kan umurnya jauh. Masa manggilnya langsung nama, kan gak sopan.”

“Yaa kan saya yang minta” Tukas Malik cepat.

“Yaudah deh, standarnya, Kak aja ya.” Ide Zsofia.

“Hmmm, not bad-lah.” Jawab Malik

Zsofia pun tersenyum dengan memamerkan gigi mentimunnya.

“Kok lucu ya??“ Ujar Malik dalam hati sambil tersenyum simpul hingga lupa berkedip.

bersambung…

.

Karya Penulis : Dyana Razaly

Foto Ilustrasi : Unsplash.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *